Whitch - Penjelasan Akhir
Ending film "The Witch" sangat kompleks dan terbuka untuk interpretasi, tetapi secara umum menceritakan tentang kehancuran keluarga William akibat paranoia, kelaparan, dan pengaruh iblis, yang berujung pada penerimaan Thomasin terhadap sihir sebagai identitas dan kebebasannya.
Setelah kematian semua anggota keluarganya, dimulai dengan Caleb yang terpesona dan dirasuki iblis, lalu William yang terbunuh oleh kambing jantan Black Phillip, dan akhirnya ibu dan saudara kembarnya yang dibunuh oleh Thomasin sendiri dalam keadaan membela diri setelah mereka menuduhnya sebagai penyihir, Thomasin berada dalam situasi putus asa. Dia sendirian di tengah hutan belantara.
Di sinilah Black Phillip, kambing jantan yang selama ini menjadi perwujudan iblis, menawarkan Thomasin kesempatan untuk bergabung dengannya dan menjadi penyihir. Dia bertanya, "Wouldst thou like to live deliciously?". Tawaran ini, dengan kata-kata yang provokatif dan menggoda, menjadi titik balik bagi Thomasin.
Thomasin menerima tawaran itu. Dia melepaskan pakaiannya dan berjalan menuju hutan tempat para penyihir berkumpul. Adegan selanjutnya menunjukkan Thomasin melayang di atas api unggun bersama para penyihir lain. Wajahnya menunjukkan ekspresi kebahagiaan, pembebasan, dan kegembiraan yang selama ini ditekan oleh dogma agama dan norma masyarakat yang mengekang.
Makna ending ini dapat diinterpretasikan dalam beberapa cara. Pertama, ini adalah kemenangan iblis atas keluarga yang saleh. Kegagalan William untuk menafsirkan kehendak Tuhan dengan benar, kesombongannya, dan ketidakmampuannya untuk menyediakan kebutuhan keluarganya, telah membuka pintu bagi kejahatan untuk masuk dan menghancurkan mereka.
Kedua, ending ini dapat dilihat sebagai pembebasan Thomasin dari penindasan patriarki dan agama. Selama film, Thomasin selalu disalahkan atas segala hal yang salah, dituduh sebagai penyebab kemalangan keluarga. Dengan bergabung dengan para penyihir, dia menemukan kekuatan dan otonominya sendiri. Dia memilih nasibnya sendiri, meskipun nasib itu ada di sisi yang "jahat".
Ketiga, ending ini merupakan kritik terhadap puritanisme dan dogma agama yang kaku. Keluarga William, dalam upaya mereka untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menjadi buta terhadap kenyataan dan terjebak dalam paranoia dan prasangka. Akibatnya, mereka menghancurkan diri mereka sendiri.
Elemen ambigu dari ending ini adalah apakah Thomasin benar-benar bahagia atau apakah dia telah ditipu oleh iblis. Apakah kebebasan yang dia temukan itu sejati atau ilusi? Film ini tidak memberikan jawaban yang pasti. Ekspresi wajah Thomasin bisa diartikan sebagai kebahagiaan yang tulus atau kegilaan karena telah menyerahkan jiwanya.
Koneksi ke tema utama film sangat kuat. "The Witch" mengeksplorasi tema-tema seperti iman, takhayul, peran wanita dalam masyarakat, dan dampak paranoia. Ending film menegaskan bahwa kegagalan untuk menyeimbangkan iman dengan akal sehat, dan ketidakmampuan untuk menerima orang lain, dapat menyebabkan kehancuran. Pilihan Thomasin untuk bergabung dengan para penyihir adalah hasil dari penindasan yang dia alami dan ketidakmampuan keluarganya untuk melindunginya. Dia memilih kekuatan atas kerentanan, meskipun kekuatan itu berasal dari sumber yang jahat. Akhirnya, ending film mengisyaratkan bahwa "kejahatan" mungkin terletak pada cara kita mendefinisikannya, dan bahwa kadang-kadang, "kebebasan" ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak kita duga.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.