L’Étranger - Penjelasan Akhir
Ending film L’Étranger (Orang Asing) berfokus pada penolakan Meursault, sang protagonis, terhadap harapan dan kenyamanan agama menjelang eksekusinya. Setelah divonis mati karena membunuh seorang Arab di pantai, seorang pendeta mengunjungi Meursault di selnya untuk mencoba membimbingnya menuju penebusan dan keyakinan religius. Meursault, yang selama hidupnya apatis dan tidak merasakan penyesalan mendalam atas tindakannya, menolak mentah-mentah tawaran pendeta tersebut.
Penolakan ini memuncak dalam ledakan emosi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Meursault. Dia melampiaskan kemarahannya dan kekecewaannya pada pendeta, menuduhnya hidup dalam kepalsuan dan mencari makna dalam sesuatu yang tidak pasti. Meursault dengan keras kepala mempertahankan ketidakpercayaannya dan keengganannya untuk menerima gagasan tentang Tuhan atau kehidupan setelah kematian. Bagi Meursault, hidup ini absurd dan tanpa makna intrinsik; keyakinan agama merupakan upaya sia-sia untuk mengimposisikan tatanan dan makna pada kekacauan yang inheren.
Pada saat-saat terakhirnya, Meursault mencapai semacam penerimaan dan pemahaman tentang kondisinya. Dia menyadari bahwa alam semesta tidak peduli padanya, atau pada siapa pun, dan bahwa kehidupan manusia pada dasarnya tidak masuk akal. Penerimaan ini, meskipun dingin dan nihilistik, memberinya rasa kebebasan. Dia menemukan kebebasan dalam menolak harapan palsu dan dalam menghadapi kematian tanpa ilusi atau penyesalan.
Meursault membayangkan hari eksekusinya dan mengakui bahwa dia hanya ingin ada banyak orang yang membencinya menyaksikan kematiannya. Keinginan aneh ini menunjukkan bahwa dia ingin dikonfirmasi dalam penolakan dan pemberontakannya. Dia ingin dunia menyaksikan bahwa dia mati sebagai orang asing, tidak menyesal dan tidak terikat pada norma atau keyakinan masyarakat.
Makna ending L’Étranger terletak pada eksplorasi eksistensialisme. Meursault mewujudkan individu yang menghadapi absurditas keberadaan tanpa mencoba menenangkannya dengan agama, moralitas konvensional, atau hubungan sosial. Penolakannya terhadap agama dan masyarakat adalah penegasan kebebasannya, meskipun kebebasan itu mengarah pada kehancurannya sendiri.
Ending ini ambigu dalam arti bahwa pembaca atau penonton dibiarkan mempertanyakan apakah Meursault benar-benar mencapai pencerahan atau apakah dia hanya seorang sosiopat yang tidak mampu merasakan emosi manusia. Apakah penerimaannya terhadap absurditas kehidupan merupakan kekuatan atau kelemahan? Apakah kebebasannya sepadan dengan harga yang harus dibayarnya? Film ini tidak memberikan jawaban yang mudah, tetapi sebaliknya mengundang penonton untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang makna hidup, kematian, dan keberadaan manusia.
Koneksi ending dengan tema-tema utama film sangat jelas. Apatisme Meursault, ketidakpeduliannya terhadap norma-norma sosial, dan penolakannya terhadap emosi menunjukkan tema keterasingan. Pembunuhannya terhadap orang Arab, tindakan irasional yang tidak dapat dia jelaskan sepenuhnya, menyoroti absurditas. Penolakan Meursault terhadap agama dan penegasan kebebasannya menunjukkan tema eksistensialisme. Ending film mengukuhkan pandangan dunia yang nihilistik dan absurd, tetapi juga menyiratkan bahwa ada semacam kebebasan yang dapat ditemukan dalam menghadapi kenyataan keras keberadaan manusia.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.