Frankenstein - Penjelasan Akhir
Ending film Frankenstein memperlihatkan Victor Frankenstein yang terobsesi mengejar ciptaannya, Monster itu, hingga ke Arktik. Kondisi fisiknya memburuk akibat kelelahan dan rasa bersalah yang mendalam atas segala kematian dan kehancuran yang disebabkan oleh Monster. Victor akhirnya meninggal di atas kapal yang dipimpin oleh Kapten Walton, seorang penjelajah yang terinspirasi oleh ambisi dan hasrat Victor untuk penemuan ilmiah.
Kematian Victor menandai puncak dari tragedi seorang ilmuwan yang melampaui batas etika dan moral. Impiannya untuk menaklukkan kematian dan menciptakan kehidupan berujung pada konsekuensi yang menghantuinya sampai akhir hayat. Kematiannya menggarisbawahi pesan tentang bahaya kesombongan (hubris) dan perlunya tanggung jawab dalam sains.
Monster, setelah mengetahui kematian penciptanya, memasuki kabin tempat jenazah Victor berada. Ia diliputi kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Meskipun Monster telah melakukan tindakan mengerikan, termasuk pembunuhan, adegan ini menunjukkan bahwa ia juga memiliki kapasitas untuk merasakan emosi, terutama kesepian dan kerinduan akan penerimaan. Ia menyadari bahwa kematian Victor menghilangkan satu-satunya hubungan yang ia miliki di dunia, meskipun hubungan itu penuh dengan konflik dan kebencian.
Monster menyatakan penyesalannya atas segala kejahatan yang telah dilakukannya dan berjanji untuk pergi ke ujung utara bumi, membakar dirinya sendiri, dan mengakhiri penderitaannya. Ia mengakui bahwa ia adalah makhluk yang terkutuk dan tidak pantas untuk hidup.
Makna ending ini kompleks. Kematian Victor dapat diartikan sebagai pembebasan dari siksaan batinnya, namun juga sebagai kegagalan total. Ia tidak berhasil menciptakan kehidupan yang harmonis atau bertanggung jawab atas ciptaannya. Monster, di sisi lain, menemukan penebusan dalam kematian yang direncanakannya sendiri. Keputusannya untuk bunuh diri menunjukkan bahwa ia memiliki kesadaran moral dan bertanggung jawab atas perbuatannya, meskipun terlambat.
Interpretasi ending ini dapat bervariasi. Beberapa orang melihatnya sebagai tragedi murni, yang menyoroti konsekuensi mengerikan dari ambisi yang tidak terkendali. Yang lain melihatnya sebagai kisah tentang penebusan dan pengampunan, di mana Monster akhirnya menemukan kedamaian dalam kematian setelah mengakui kesalahannya.
Elemen ambigu terletak pada sejauh mana Monster benar-benar bertanggung jawab atas tindakannya. Ia diciptakan tanpa identitas atau pendidikan yang layak, dan diperlakukan dengan kejam oleh masyarakat. Apakah tindakannya merupakan hasil dari sifat jahat bawaan atau akibat dari lingkungan yang kejam? Pertanyaan ini tetap terbuka untuk interpretasi.
Ending Frankenstein sangat terkait dengan tema-tema sentral film, seperti ambisi ilmiah, tanggung jawab, penciptaan, pengasingan, dan esensi kemanusiaan. Kisah ini memperingatkan tentang bahaya mengejar pengetahuan tanpa mempertimbangkan konsekuensi moral dan etika. Ia juga menyoroti pentingnya penerimaan dan kasih sayang dalam membentuk karakter seseorang. Monster, yang pada dasarnya diciptakan tanpa cacat, berubah menjadi makhluk yang mengerikan karena ditolak dan dianiaya oleh masyarakat. Kisah ini mengundang penonton untuk merenungkan apa yang benar-benar membuat seseorang menjadi manusia dan bagaimana perlakuan kita terhadap orang lain dapat membentuk takdir mereka.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.