그 시절, 우리가 좋아했던 소녀 - Penjelasan Akhir
Ending film "그 시절, 우리가 좋아했던 소녀" atau "You Are the Apple of My Eye" (versi Korea) sangat menekankan pada realitas dan penerimaan ketidakmungkinan. Ko Chingteng (diperankan oleh Jay Shih) hadir di pernikahan Shen Chia-yi (diperankan oleh Chen Yen-xi) dengan orang lain. Sepanjang film, Ko Chingteng digambarkan sebagai sosok idealis dan penuh semangat yang sangat terobsesi pada Shen Chia-yi. Dia berupaya keras untuk menarik perhatiannya dan membuktikan dirinya pantas mendapatkan cintanya, bahkan hingga bertengkar hebat dengannya karena perbedaan pendapat mengenai masa depan dan ambisi.
Di pernikahan, alih-alih menjadi dramatis dan mencoba menghentikan pernikahan tersebut, Ko Chingteng memilih untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga namun sangat bermakna. Dia meminta untuk mencium pengantin pria, dengan alasan bahwa dulu mereka sering bertaruh siapa yang akan mencium Shen Chia-yi pertama kali. Pengantin pria setuju, dan Ko Chingteng mencium Shen Chia-yi di depan semua orang. Adegan ini bukan hanya sekadar ciuman, tetapi lebih merupakan realisasi dan pelepasan harapan.
Makna dari ciuman ini sangat dalam. Itu adalah cara Ko Chingteng untuk akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan sepanjang hidupnya, tetapi dalam konteks yang tidak mungkin. Dia tidak mendapatkan Shen Chia-yi sebagai pasangannya, tetapi dia mendapatkan kesempatan untuk merasakan keintiman yang dia dambakan, meskipun hanya sesaat. Ciuman tersebut melambangkan pengakuan Ko Chingteng bahwa dia harus melepaskan Shen Chia-yi dan menerima bahwa mereka tidak ditakdirkan untuk bersama.
Penting untuk diingat bahwa ciuman itu sendiri bukan tentang gairah romantis yang tersisa. Itu adalah representasi simbolis dari cinta platonis dan persahabatan mendalam yang mereka bagikan. Ini adalah cara Ko Chingteng untuk mengucapkan selamat tinggal pada "Shen Chia-yi" yang dia idealisasikan dan menghargai kenangan yang mereka ciptakan bersama.
Film ini tidak memberikan penjelasan eksplisit mengenai perasaan Shen Chia-yi saat ciuman itu terjadi. Ekspresinya ambigu, dan penonton dibiarkan menafsirkan sendiri reaksinya. Mungkin dia terkejut, mungkin dia tersentuh, atau mungkin dia menyadari bahwa dia juga memiliki perasaan yang tersisa untuk Ko Chingteng. Bagaimanapun, reaksinya menggarisbawahi kompleksitas hubungan mereka dan kenyataan bahwa cinta tidak selalu cukup untuk menyatukan dua orang.
Ending film ini juga terhubung langsung dengan tema cinta pertama dan penerimaan. Ko Chingteng akhirnya memahami bahwa cinta pertama tidak selalu harus berakhir dengan kebahagiaan abadi. Kadang-kadang, cinta pertama berfungsi sebagai pelajaran berharga yang membentuk kita menjadi siapa kita. Dia belajar untuk menghargai kenangan, melepaskan masa lalu, dan terus maju dengan hidupnya.
Ambigu lainnya adalah apakah Shen Chia-yi benar-benar bahagia dengan pernikahannya. Film ini tidak memberikan jawaban yang pasti. Mungkin dia puas dengan pilihannya, atau mungkin dia bertanya-tanya "bagaimana jika". Namun, inti dari film ini bukanlah tentang kesempurnaan hidup, tetapi tentang penerimaan dan pertumbuhan.
Film ini secara efektif menyampaikan pesan bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersemi, tetapi cinta itu tetap berharga. Ko Chingteng tidak mendapatkan cintanya, tetapi dia mendapatkan pengalaman, persahabatan, dan pelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Ending film ini menyentuh karena kejujurannya tentang cinta, kehilangan, dan penerimaan, bukan karena fantasi romantis yang terpenuhi.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.