Todo lo que no vemos - Cerita Lengkap
Todo lo que no vemos
ACT 1 (Setup)
Film dimulai dengan Marina, seorang gadis remaja yang penuh semangat dan memiliki imajinasi yang luar biasa. Ia adalah seorang penulis blog yang berbakat dan gemar mengamati dunia di sekitarnya, terutama melalui jendelanya. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil di Madrid bersama ibunya yang bekerja keras, Elena. Elena sangat protektif terhadap Marina karena ia memiliki penyakit paru-paru kronis yang membatasi aktivitas fisiknya. Marina jarang keluar rumah dan menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer atau membaca buku.
Di seberang jalan, Marina melihat Alex, seorang anak laki-laki seumurannya yang misterius dan pendiam. Alex selalu terlihat sendirian, bermain skateboard di taman atau duduk di balkon apartemennya dengan tatapan kosong. Marina tertarik padanya dan mulai menulis tentangnya di blognya, menciptakan cerita-cerita fiktif tentang kehidupan Alex berdasarkan pengamatannya.
Marina merasa kesepian dan terisolasi. Ia merindukan interaksi sosial dan pengalaman baru. Ia mencoba menjalin pertemanan secara online, tetapi ia merasa sulit untuk terhubung dengan orang lain secara bermakna. Elena khawatir dengan keadaan Marina dan mencoba untuk membuatnya lebih aktif, tetapi Marina menolak, merasa lebih nyaman di dunianya sendiri.
Suatu hari, Marina menyaksikan Alex terlibat perkelahian dengan seorang preman di taman. Alex terluka dan Marina merasa sangat khawatir. Ia mencoba mencari tahu tentang Alex dan latar belakangnya, tetapi ia tidak menemukan informasi apapun.
ACT 2 (Conflict)
Marina memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan mendekati Alex. Ia meninggalkan surat di kotak suratnya, menawarkan bantuannya. Alex awalnya curiga dan menolak untuk berbicara dengan Marina. Namun, Marina tidak menyerah dan terus berusaha untuk menjalin komunikasi dengannya.
Akhirnya, Alex membuka diri kepada Marina. Ia mengungkapkan bahwa ia adalah seorang yatim piatu yang tinggal bersama pamannya yang kasar dan penyendiri. Alex merasa tertekan dan kesepian, dan ia menggunakan skateboard sebagai pelarian dari masalahnya.
Marina dan Alex mulai menghabiskan waktu bersama. Marina membacakan cerita-cerita yang ia tulis untuk Alex, dan Alex mengajarkan Marina cara bermain skateboard. Mereka menemukan kesamaan dalam rasa kesepian dan keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan.
Hubungan mereka semakin dekat, dan Marina mulai merasakan perasaan romantis terhadap Alex. Namun, ia takut untuk mengungkapkan perasaannya karena penyakitnya dan rasa tidak amannya. Elena juga khawatir dengan hubungan Marina dan Alex, karena ia merasa Alex adalah pengaruh yang buruk bagi Marina.
Suatu malam, Alex mengajak Marina ke sebuah pesta. Marina awalnya ragu-ragu, tetapi ia akhirnya setuju untuk pergi. Di pesta, Marina merasa canggung dan tidak nyaman. Ia merasa seperti orang asing di antara teman-teman Alex. Ia melihat Alex minum alkohol dan berkelahi dengan orang lain.
Marina merasa kecewa dan marah kepada Alex. Ia merasa bahwa Alex tidak peduli padanya dan bahwa ia hanya menggunakan Marina untuk melarikan diri dari masalahnya. Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
ACT 3 (Climax)
Marina kembali ke apartemennya dan mengunci diri di kamarnya. Ia merasa sangat sedih dan putus asa. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dan merasa bahwa ia tidak pantas untuk dicintai.
Elena mencoba untuk menghibur Marina, tetapi Marina menolak untuk berbicara dengannya. Elena khawatir dengan keadaan Marina dan memutuskan untuk menghubungi paman Alex. Elena mengetahui bahwa Alex telah melarikan diri dari rumah dan bahwa pamannya telah melaporkannya ke polisi.
Elena mengungkapkan kepada Marina bahwa ia tahu tentang penyakit Alex dan bahwa ia telah mencoba untuk melindunginya. Elena juga mengungkapkan bahwa ia telah mengkhawatirkan Marina selama ini dan bahwa ia hanya ingin yang terbaik untuknya.
Marina menyadari bahwa Elena benar dan bahwa ia telah bersikap egois dan tidak adil terhadapnya. Ia memutuskan untuk mencari Alex dan membantunya.
Marina mencari Alex di tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi. Akhirnya, ia menemukan Alex di sebuah taman terlantar. Alex dalam keadaan mabuk dan putus asa. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa tidak punya harapan dan bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya.
Marina mencoba untuk meyakinkan Alex bahwa hidupnya berharga dan bahwa ia tidak sendirian. Ia membacakan cerita-cerita yang ia tulis untuk Alex dan mengingatkannya tentang semua kenangan indah yang mereka bagikan.
Alex mendengarkan Marina dan mulai menangis. Ia menyadari bahwa Marina adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli padanya dan bahwa ia tidak ingin kehilangan dirinya.
ACT 4 (Resolution)
Marina dan Alex kembali ke apartemen Marina. Elena menyambut mereka dengan hangat dan menawarkan mereka makanan dan minuman. Alex meminta maaf kepada Marina atas perilakunya dan berjanji untuk berubah.
Marina dan Alex memutuskan untuk tetap bersama dan saling mendukung. Mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan dan bahwa mereka dapat mengatasi semua masalah bersama.
Marina mulai menulis cerita tentang Alex di blognya, tetapi kali ini ia menulis tentang Alex yang sebenarnya, bukan tentang versi fiktif yang ia ciptakan. Ia menulis tentang perjuangan Alex, harapan Alex, dan cinta Alex.
Marina dan Alex mulai menghadiri terapi bersama untuk mengatasi masalah mereka. Mereka belajar cara berkomunikasi secara efektif dan cara mengatasi emosi mereka dengan cara yang sehat.
Marina dan Alex mulai menjelajahi dunia di luar apartemen Marina. Mereka pergi ke museum, konser, dan taman. Mereka menemukan pengalaman baru dan menjalin pertemanan dengan orang lain.
Marina dan Alex membuktikan bahwa cinta dan persahabatan dapat mengatasi semua rintangan. Mereka belajar untuk menerima diri mereka sendiri dan untuk menerima orang lain apa adanya. Mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil dan menghargai setiap momen yang mereka bagikan. Film berakhir dengan Marina dan Alex berpegangan tangan, menatap masa depan dengan harapan dan optimisme.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.