Time Was - Cerita Lengkap
Time Was
ACT 1 (Setup)
Film dibuka dengan adegan di Berlin, Jerman pada tahun 1944. Seorang pianis muda berbakat bernama Tomasz sedang bermain piano di sebuah klub malam. Suaranya yang indah menarik perhatian Karolina, seorang wanita muda yang anggun dan misterius. Mereka saling bertukar pandang, dan ketertarikan langsung terasa. Malam itu, setelah pertunjukan, mereka berbicara dan jatuh cinta dengan cepat. Karolina mengungkapkan bahwa dia seorang Yahudi dan keluarganya bersembunyi dari Nazi. Tomasz, yang bukan Yahudi, berjanji untuk melindunginya. Mereka menghabiskan beberapa minggu berikutnya bersama, mencuri momen-momen kebahagiaan di tengah kengerian perang. Suatu malam, saat mereka sedang bersama, rumah persembunyian Karolina digerebek oleh tentara Nazi. Tomasz menyaksikan dengan ngeri saat Karolina dan keluarganya dibawa pergi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka.
Lompat ke masa kini. Daniel, seorang pria tua yang kesepian tinggal di sebuah apartemen kecil di New York City. Dia adalah seorang kakek yang penyendiri dan tertutup. Suatu hari, cucunya, Talia, datang mengunjunginya. Talia adalah seorang mahasiswi yang cerdas dan bersemangat. Dia memperhatikan bahwa kakeknya selalu sedih dan murung. Dia mencoba untuk berbicara dengannya, tetapi Daniel enggan membuka diri. Saat Talia sedang membersihkan apartemen Daniel, dia menemukan sebuah kotak tua yang berisi surat-surat dan foto-foto lama. Dia menemukan foto seorang wanita cantik bernama Karolina. Talia bertanya pada Daniel tentang wanita itu, tetapi Daniel menjadi sangat marah dan menyuruhnya untuk tidak pernah menyebut namanya lagi. Talia bingung dan terluka oleh reaksi kakeknya. Namun, dia tahu ada cerita besar di balik foto itu.
ACT 2 (Conflict)
Talia mulai menyelidiki masa lalu kakeknya. Dia melakukan riset online dan mengunjungi perpustakaan. Dia menemukan informasi tentang seorang pianis bernama Tomasz yang menghilang selama Perang Dunia II. Dia juga menemukan informasi tentang penggerebekan Nazi di Berlin pada tahun 1944. Talia mulai mencurigai bahwa Tomasz adalah kakeknya, Daniel. Dia memutuskan untuk pergi ke Berlin untuk mencari tahu lebih banyak tentang masa lalu kakeknya. Di Berlin, Talia bertemu dengan seorang sejarawan yang ahli tentang Perang Dunia II. Sejarawan itu membantunya menelusuri jejak Tomasz dan Karolina. Mereka mengunjungi tempat-tempat di mana Tomasz dan Karolina pernah menghabiskan waktu bersama. Talia menemukan bukti bahwa Tomasz telah berusaha menyelamatkan Karolina dari Nazi. Namun, usahanya gagal.
Talia juga menemukan bahwa setelah perang, Tomasz mengubah namanya menjadi Daniel dan beremigrasi ke Amerika Serikat. Dia meninggalkan masa lalunya di belakangnya dan mencoba untuk memulai hidup baru. Namun, dia tidak pernah bisa melupakan Karolina. Sementara Talia berada di Berlin, dia terus menghubungi Daniel. Dia menceritakan apa yang dia temukan dan mencoba untuk meyakinkannya untuk membuka diri tentang masa lalunya. Daniel awalnya menolak untuk berbicara, tetapi akhirnya dia mulai melunak. Dia mulai menceritakan kisah cintanya dengan Karolina kepada Talia. Dia menceritakan tentang kebahagiaan dan harapan mereka, serta kengerian dan kehilangan yang mereka alami.
ACT 3 (Climax)
Daniel mengakui bahwa dia telah hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan selama bertahun-tahun. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Karolina. Dia juga merasa bersalah karena meninggalkan masa lalunya. Talia meyakinkan Daniel bahwa dia tidak bersalah atas apa yang terjadi. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia telah melakukan yang terbaik yang dia bisa. Talia juga mengatakan kepadanya bahwa dia harus memaafkan dirinya sendiri dan melepaskan masa lalunya. Daniel akhirnya setuju untuk kembali ke Berlin bersama Talia. Dia ingin mengunjungi tempat-tempat di mana dia pernah menghabiskan waktu bersama Karolina. Dia juga ingin mencari tahu apa yang terjadi pada Karolina setelah dia ditangkap oleh Nazi.
Di Berlin, Daniel dan Talia mengunjungi Museum Yahudi. Mereka mencari tahu bahwa Karolina dikirim ke kamp konsentrasi Auschwitz. Dia meninggal di sana pada tahun 1945. Daniel sangat terpukul oleh berita itu. Dia merasa seolah-olah dia telah kehilangan Karolina lagi. Talia menghibur kakeknya. Dia mengatakan kepadanya bahwa Karolina tidak akan ingin dia terus menderita. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia harus merayakan hidupnya dan cintanya.
ACT 4 (Resolution)
Daniel dan Talia mengunjungi makam Karolina di Berlin. Daniel meletakkan bunga di makamnya dan mengucapkan selamat tinggal. Dia akhirnya bisa melepaskan masa lalunya dan menemukan kedamaian. Daniel dan Talia kembali ke New York City. Daniel mulai membuka diri kepada orang lain. Dia mulai menghadiri konser dan mengunjungi teman-temannya. Dia juga mulai bermain piano lagi. Musiknya sekarang dipenuhi dengan harapan dan kebahagiaan. Daniel akhirnya menemukan kebahagiaan lagi. Dia menyadari bahwa meskipun dia telah kehilangan Karolina, cintanya akan selalu hidup di dalam hatinya. Talia juga belajar banyak dari pengalaman ini. Dia belajar tentang pentingnya sejarah dan keluarga. Dia juga belajar tentang kekuatan cinta dan pengampunan. Film berakhir dengan Daniel dan Talia bermain piano bersama. Mereka tersenyum dan tertawa. Mereka akhirnya menemukan kebahagiaan bersama. Musik mereka mengisi apartemen dengan harapan dan cinta. Kisah masa lalu dan masa kini bergabung dalam melodi yang abadi.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.