The Thing with Feathers - Cerita Lengkap
ACT 1 (Setup)
Seorang wanita muda bernama Ava, yang tinggal di kota kecil yang tenang, sedang berjuang melawan depresi berat. Ia baru saja kehilangan ibunya, yang sangat dekat dengannya, dan ia merasa tidak punya tujuan dalam hidup. Rumahnya terasa sunyi dan kosong, mencerminkan kekosongan di dalam dirinya. Ava menghabiskan hari-harinya tidur atau sekadar menatap langit-langit, tidak punya motivasi untuk melakukan apa pun. Ayahnya, Robert, berusaha keras untuk menjangkau Ava, tetapi ia merasa tidak bisa menembus kesedihan putrinya. Robert, seorang pensiunan guru sastra, mencoba membujuk Ava untuk membaca puisi Emily Dickinson yang berjudul "Hope is the thing with feathers," dengan harapan puisi itu akan memberikan sedikit penghiburan dan inspirasi. Ava awalnya menolak, merasa tidak ada yang bisa membantunya.
Suatu hari, saat membersihkan barang-barang ibunya, Ava menemukan sebuah kotak tua berisi surat-surat dan foto-foto. Salah satu foto menarik perhatiannya: foto ibunya saat masih muda, tersenyum cerah, sedang memegang seekor burung kecil yang tidak dikenalnya. Di belakang foto itu tertulis, "Harapan tidak pernah hilang." Ava merasa penasaran dan mulai membaca surat-surat itu. Surat-surat itu mengungkapkan bahwa ibunya pernah mengalami masa-masa sulit juga, tetapi ia selalu berhasil menemukan harapan, meskipun dalam situasi yang paling gelap.
Di surat-surat itu, Ava menemukan petunjuk tentang sebuah tempat tersembunyi di hutan dekat rumah mereka, tempat ibunya biasa pergi untuk mencari kedamaian. Ava memutuskan untuk pergi ke tempat itu, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya mengatasi kesedihan dan menemukan harapan kembali. Saat ia berjalan melalui hutan, ia merasakan sedikit harapan mulai tumbuh di dalam dirinya. Ia merasa seolah-olah ibunya menuntunnya.
ACT 2 (Conflict)
Ava menemukan tempat yang dijelaskan dalam surat-surat ibunya: sebuah glade kecil yang indah dengan pohon willow yang besar di tengahnya. Di bawah pohon itu, ia menemukan sebuah buku harian tua milik ibunya. Ava mulai membaca buku harian itu dan mengetahui lebih banyak tentang kehidupan ibunya, perjuangannya, dan bagaimana ia selalu berhasil menemukan harapan. Buku harian itu juga menyebutkan tentang "burung harapan," seekor burung mistis yang dikatakan muncul kepada orang-orang yang sedang berjuang dan memberikan mereka harapan.
Awalnya, Ava menganggap cerita tentang "burung harapan" itu hanya sebagai metafora, tetapi kemudian ia mulai melihat hal-hal aneh di sekitar glade. Ia mendengar suara-suara aneh, melihat bayangan-bayangan bergerak, dan merasakan kehadiran yang tidak bisa dijelaskan. Ia mulai bertanya-tanya apakah "burung harapan" itu benar-benar ada. Sementara Ava mencari burung harapan, ia juga berjuang dengan ingatannya tentang ibunya dan penyesalannya karena tidak cukup menghabiskan waktu bersamanya. Ia merasa bersalah karena ia tidak menyadari betapa ibunya berjuang dan ia menyesal tidak pernah membantunya.
Robert, yang khawatir dengan Ava, diam-diam mengikutinya ke hutan. Ia melihat Ava berbicara sendiri dan bertingkah aneh, dan ia khawatir Ava kehilangan akal sehatnya. Robert mencoba membujuk Ava untuk pulang dan mendapatkan bantuan profesional, tetapi Ava menolak. Ia merasa bahwa ia sudah dekat untuk menemukan "burung harapan" dan ia tidak ingin menyerah. Konflik antara Ava dan Robert meningkat, dan mereka berdua merasa frustrasi dan tidak berdaya.
ACT 3 (Climax)
Suatu malam, saat Ava sedang duduk di bawah pohon willow, ia melihat seekor burung kecil yang aneh terbang mendekatinya. Burung itu memiliki bulu-bulu berwarna-warni yang berkilauan dan matanya bersinar terang. Ava merasa seolah-olah burung itu berbicara kepadanya, mengatakan bahwa ia tidak sendirian dan bahwa harapan selalu ada, bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun. Ava mencoba menangkap burung itu, tetapi burung itu terbang menjauh. Ava mengejar burung itu melalui hutan, melewati rintangan dan menghadapi ketakutannya.
Robert, yang masih mengikuti Ava, melihat kejadian itu dan menyadari bahwa Ava tidak gila. Ia menyadari bahwa Ava benar-benar melihat sesuatu yang istimewa dan bahwa ia sedang berjuang untuk menemukan harapan. Robert memutuskan untuk membantu Ava dan mereka berdua mengejar "burung harapan" bersama-sama. Akhirnya, mereka sampai di sebuah jurang yang dalam. Burung itu terbang ke seberang jurang dan Ava dan Robert tahu bahwa mereka harus mengambil risiko untuk mencapai burung itu.
Ava dan Robert saling mendukung dan mereka berhasil menyeberangi jurang itu. Mereka akhirnya menemukan "burung harapan" di puncak gunung. Burung itu hinggap di tangan Ava dan Ava merasa kedamaian dan harapan membanjiri dirinya. Ia menyadari bahwa "burung harapan" bukanlah burung yang nyata, tetapi merupakan simbol dari harapan yang ada di dalam dirinya.
ACT 4 (Resolution)
Ava dan Robert kembali ke rumah, merasa lebih dekat dan lebih kuat dari sebelumnya. Ava akhirnya bisa menerima kematian ibunya dan ia menyadari bahwa ia masih memiliki banyak hal untuk dinantikan dalam hidup. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dan mengejar mimpinya. Ia mulai menulis puisi dan ia menemukan cara untuk mengekspresikan perasaannya melalui seni. Robert bangga dengan Ava dan ia senang melihat putrinya menemukan harapan kembali.
Ava dan Robert terus mengunjungi glade di hutan dan mereka selalu mengingat "burung harapan." Mereka menyadari bahwa harapan selalu ada, meskipun dalam situasi yang paling gelap sekalipun. Mereka belajar untuk saling mendukung dan untuk tidak pernah menyerah pada diri sendiri. Film berakhir dengan Ava dan Robert tersenyum dan menatap matahari terbit, merasa optimis tentang masa depan. Mereka tahu bahwa mereka akan selalu memiliki satu sama lain dan bahwa mereka akan selalu memiliki harapan.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.