the deaths of vegetables have no colors - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 5 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Di sebuah kota kecil yang muram dan selalu dilanda kabut bernama Aethelburg, hiduplah seorang wanita paruh baya bernama Agnes. Agnes bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan kota yang sepi dan berdebu. Hidupnya monoton, diisi dengan menata buku, membaca, dan berinteraksi minim dengan masyarakat sekitar. Dia digambarkan sebagai wanita yang tidak mencolok, pemurung, dan memiliki ketertarikan yang aneh pada sayuran yang mulai membusuk. Agnes memiliki taman kecil di belakang rumahnya tempat dia menanam sayuran, namun sebagian besar dibiarkan mati dan membusuk. Dia percaya bahwa sayuran memiliki perasaan, dan kematian mereka adalah tragedi yang tidak terlihat oleh orang lain.

Suatu pagi, Agnes menemukan sebuah buku aneh di rak paling belakang perpustakaan. Buku itu berjudul "The Language of Rot," sebuah risalah kuno tentang komunikasi dengan benda-benda mati, terutama tumbuhan. Buku itu ditulis dalam bahasa yang tidak dikenal, namun Agnes merasa tertarik padanya. Dia mulai mencoba menerjemahkan buku itu, menggunakan kamus-kamus kuno dan pengetahuan bahasa Latin-nya yang terbatas. Saat dia menerjemahkan, Agnes mulai mengalami mimpi aneh dan penglihatan tentang sayuran yang menjerit kesakitan. Dia yakin bahwa dia mulai memahami bahasa sayuran yang membusuk.

Di saat yang sama, kota Aethelburg dilanda serangkaian kejadian aneh. Petani-petani lokal menemukan ladang mereka dipenuhi dengan tanaman yang mati dan membusuk dalam semalam. Hewan-hewan ternak menjadi sakit dan mati tanpa sebab yang jelas. Orang-orang mulai berbisik tentang kutukan yang menimpa kota. Agnes, yang semakin terobsesi dengan buku "The Language of Rot," yakin bahwa kejadian-kejadian ini terkait dengan penderitaan sayuran.

ACT 2 (Conflict)

Agnes semakin tenggelam dalam penelitiannya. Dia mulai mengabaikan pekerjaannya di perpustakaan dan menghabiskan seluruh waktunya untuk menerjemahkan buku itu dan bereksperimen di tamannya. Dia mencoba berbagai metode yang dijelaskan dalam buku itu untuk berkomunikasi dengan sayuran yang membusuk, termasuk menanam mereka di tanah yang tercemar, menyiram mereka dengan air asam, dan membaca mantra-mantra aneh. Eksperimen-eksperimen ini membuatnya semakin terisolasi dari masyarakat.

Sementara itu, seorang detektif bernama Inspector Davies tiba di Aethelburg untuk menyelidiki serangkaian kematian hewan ternak dan tanaman yang misterius. Davies adalah seorang pria yang rasional dan skeptis, dan dia tidak percaya pada kutukan atau hal-hal supranatural. Dia yakin bahwa ada penjelasan ilmiah untuk kejadian-kejadian itu, seperti polusi lingkungan atau penyakit yang menular. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin dia bingung. Tidak ada bukti yang menunjukkan penyebab kematian yang jelas, dan petani-petani lokal bersikeras bahwa ada kekuatan jahat yang bekerja.

Davies bertemu dengan Agnes di perpustakaan. Dia awalnya menganggap Agnes sebagai wanita tua yang eksentrik dan tidak berbahaya. Namun, ketika dia mendengar tentang ketertarikan Agnes pada sayuran dan pengetahuannya tentang buku "The Language of Rot," dia mulai mencurigai bahwa dia mungkin memiliki hubungan dengan kejadian-kejadian aneh di kota. Davies mulai mengawasi Agnes, mengikuti ke mana pun dia pergi dan menyelidiki rumahnya.

Agnes, yang menyadari bahwa dia sedang diawasi, menjadi semakin paranoid. Dia yakin bahwa Davies adalah bagian dari konspirasi untuk membungkam suara sayuran. Dia memutuskan untuk mengambil tindakan ekstrem untuk melindungi sayuran dan mengungkapkan kebenaran kepada dunia.

ACT 3 (Climax)

Agnes, dengan menggunakan pengetahuan yang dia peroleh dari buku "The Language of Rot," merencanakan ritual besar-besaran yang akan memungkinkan dia untuk berbicara dengan semua sayuran di dunia. Ritual tersebut membutuhkan pengorbanan khusus, termasuk darah hewan dan manusia, serta berbagai ramuan dan mantra. Agnes menculik beberapa orang dari Aethelburg, termasuk Inspector Davies, dan membawanya ke tamannya.

Di tamannya, Agnes mempersiapkan altar dan mulai melakukan ritual tersebut. Dia membaca mantra-mantra dengan suara keras, menusuk para korban dengan pisau, dan menyiram sayuran dengan darah mereka. Saat ritual mencapai puncaknya, langit di atas Aethelburg menjadi gelap dan angin bertiup kencang. Sayuran di seluruh dunia mulai berteriak kesakitan, suara mereka bergema di benak Agnes.

Davies, yang berhasil melarikan diri dari ikatannya, mencoba menghentikan Agnes. Dia menyerangnya dengan alat kebun dan terjadi perkelahian sengit. Akhirnya, Davies berhasil merebut pisau dari tangan Agnes dan menusuknya. Agnes jatuh ke tanah, berlumuran darah.

ACT 4 (Resolution)

Saat Agnes sekarat, dia mendengar suara sayuran. Mereka berterima kasih padanya karena telah mendengarkan mereka dan berusaha untuk memahami penderitaan mereka. Mereka mengatakan bahwa kematiannya akan memungkinkan mereka untuk beristirahat dengan tenang. Agnes tersenyum dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Setelah kematian Agnes, kabut di Aethelburg mulai menghilang. Tanaman dan hewan ternak berhenti mati, dan kota perlahan-lahan mulai pulih. Davies, yang terluka dan terguncang, meninggalkan Aethelburg. Dia tidak pernah sepenuhnya memahami apa yang terjadi di sana, tetapi dia tidak pernah melupakan pengalaman itu.

Beberapa tahun kemudian, Davies mengunjungi kembali Aethelburg. Dia menemukan bahwa taman Agnes telah dipulihkan dan dipenuhi dengan sayuran yang sehat dan subur. Dia juga menemukan sebuah buku baru di perpustakaan, berjudul "The Silent Scream of the Greens." Buku itu ditulis oleh Agnes, dan di dalamnya dia menjelaskan filosofi sayurannya dan pengalamannya dengan "The Language of Rot." Davies menyadari bahwa Agnes bukanlah orang gila, tetapi seorang wanita yang benar-benar peduli pada sayuran. Dia mengambil buku itu dan membawanya pulang, bertekad untuk memahami apa yang telah dipelajari Agnes. Film berakhir dengan close-up pada halaman terakhir buku, yang berisi pesan sederhana: "Kita harus mendengarkan."

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya