Steve Hackett - The Lamb Stands Up Live at the Royal Albert Hall - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Film konser dimulai dengan visual dramatis Royal Albert Hall, lampunya meredup, dan penonton yang dipenuhi antisipasi. Steve Hackett dan bandnya naik ke panggung disambut gemuruh tepuk tangan. Hackett, gitaris legendaris yang pernah menjadi bagian dari Genesis, memulai konser dengan instrumental pembuka yang atmosferik, membangun ketegangan sebelum masuk ke lagu pertama.

Lagu pertama adalah "The Lamb Lies Down on Broadway", langsung membawa penonton ke jantung album konsep Genesis tahun 1974. Visual di layar belakang menampilkan gambar-gambar surealis dan simbolis yang terkait dengan cerita album. Penampilan Hackett dan bandnya sangat setia pada aransemen asli, namun dengan sentuhan modern dan energi baru. Vokalis nadanya mirip dengan Peter Gabriel, menghidupkan karakter Rael.

Setelah lagu pembuka yang kuat, Hackett menyapa penonton, mengungkapkan kegembiraannya untuk menampilkan seluruh album "The Lamb Lies Down on Broadway" secara live, sebuah prestasi yang jarang dilakukan oleh siapa pun sejak Genesis sendiri. Ia memberikan sedikit latar belakang tentang album tersebut, menjelaskan narasi yang kompleks dan surealis tentang Rael, seorang pemuda Puerto Rico di New York City yang terlibat dalam serangkaian peristiwa aneh dan fantastis.

Lagu-lagu selanjutnya, seperti "Fly on a Windshield" dan "Broadway Melody of 1974", memperkenalkan lebih jauh setting dan karakter-karakter dalam cerita. Visual menjadi semakin abstrak dan surealis, menciptakan suasana mimpi buruk yang aneh. Penampilan musiknya sangat tepat, dengan solo gitar Hackett yang menghantui dan dinamis, vokal yang penuh semangat, dan ritme yang mantap. Sorotan visual menampilkan adegan-adegan kota yang suram dan figur-figur aneh.

ACT 2 (Conflict)

Saat pertunjukan berlanjut, alur cerita Rael mulai terungkap. Lagu-lagu seperti "Cuckoo Cocoon" dan "In the Cage" menggambarkan perjuangan Rael untuk memahami dunia di sekitarnya dan menemukan tempatnya di dalamnya. Visual menjadi lebih intens dan mengganggu, mencerminkan kebingungan dan ketakutan Rael. Hackett menunjukkan keahlian gitar klasiknya, menavigasi bagian-bagian yang kompleks dengan mudah.

Band ini menunjukkan fleksibilitas mereka, beralih dengan mulus di antara bagian-bagian instrumental yang rumit dan bagian-bagian vokal yang emosional. "Riding the Scree" menggambarkan petualangan berbahaya, meningkatkan intensitas narasi.

Selama "The Carpet Crawlers", suasana berubah menjadi lebih lembut dan introspektif. Visual menggambarkan tangga panjang yang tak berujung, menyiratkan perjalanan spiritual atau pencarian makna. Vokal menjadi lebih lembut dan penuh perasaan, dan solo gitar Hackett menambahkan lapisan melankolis. Lagu ini memberikan jeda yang sangat dibutuhkan dari intensitas lagu-lagu sebelumnya, memungkinkan penonton untuk meresapi emosi-emosi yang telah disajikan.

"The Chamber of 32 Doors" dan "Lilywhite Lilith" semakin meningkatkan rasa disorientasi dan ketidakpastian Rael. Visual menjadi lebih aneh dan fantastis, mencerminkan perjalanan mental Rael ke kedalaman kesadarannya. Efek pencahayaan dan desain panggung memainkan peran penting dalam menciptakan suasana yang aneh dan mengganggu.

ACT 3 (Climax)

Pertunjukan mencapai klimaksnya dengan lagu-lagu seperti "The Waiting Room" dan "Anyway". "The Waiting Room" adalah bagian instrumental yang kacau dan disonan yang mencerminkan kebingungan dan ketakutan Rael yang ekstrim. Visual menjadi sangat abstrak dan mengganggu, menciptakan pengalaman sensorik yang intens. Hackett dan bandnya melepaskan semua energi mereka ke dalam penampilan mereka, menciptakan rasa urgensi dan bahaya.

"Anyway" menawarkan sedikit harapan dan resolusi di tengah kekacauan. Vokal menjadi lebih penuh perasaan dan penuh harapan, dan visual menggambarkan momen kejernihan dan pemahaman. Namun, rasa ketegangan dan ketidakpastian tetap ada, menunjukkan bahwa perjalanan Rael masih jauh dari selesai.

"Here Comes the Flood" dibawakan oleh Steve Hackett seorang diri dengan pianonya, momen intim dan menyentuh yang beresonansi dengan penonton. Lagu ini berfungsi sebagai jembatan menuju babak akhir dari cerita.

"After the Ordeal" adalah bagian instrumental yang memungkinkan band untuk menunjukkan keterampilan teknis mereka. Bagian-bagian yang kompleks dan perubahan waktu yang aneh menambah rasa kegelisahan.

ACT 4 (Resolution)

Babak akhir pertunjukan berfokus pada resolusi cerita Rael. Lagu-lagu seperti "The Lamia" dan "Silent Sorrow in Empty Boats" menggambarkan perjalanan Rael melalui cinta, kehilangan, dan penerimaan diri. Visual menjadi lebih menyentuh dan menghantui, mencerminkan pertumbuhan emosional Rael. Solo gitar Hackett menjadi lebih ekspresif dan emosional, menyampaikan rasa sakit dan keindahan pengalaman Rael.

"The Colony of Slippermen" membawa penonton kembali ke lanskap surealis, menggambarkan transformasi dan perjuangan Rael. "Ravine" dan "The Light Dies Down on Broadway" mempercepat menuju kesimpulan emosional.

Lagu terakhir, "Riding the Scree" (Reprise) dan "Back in N.Y.C." membawa cerita itu ke lingkaran penuh, akhirnya tiba pada momen pengorbanan dan potensi penebusan. Vokal mencapai puncak emosional, dan visual menunjukkan momen persatuan dan pemahaman.

Setelah penampilan yang menakjubkan dari "The Lamb Lies Down on Broadway", band tersebut menampilkan encore yang terdiri dari lagu-lagu Genesis klasik lainnya seperti "Los Endos" dan "The Musical Box". Lagu-lagu ini disambut dengan antusias oleh penonton, yang memberikan tepuk tangan meriah dan sorak-sorai.

Film konser berakhir dengan bidikan Steve Hackett dan bandnya membungkuk di hadapan penonton yang berterima kasih. Visual memudar menjadi hitam, meninggalkan penonton dengan rasa kagum dan kekaguman atas pencapaian musik dan visual yang telah mereka saksikan. Layar menunjukkan kredit dan rasa terima kasih kepada mereka yang terlibat dalam produksi, sambil meninggalkan kesan abadi dari performa yang luar biasa.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya