Square Heads - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 6 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan menampilkan kota Metropolis yang aneh dan futuristik, dihuni oleh manusia berkepala kotak, atau disebut juga Square Heads. Kehidupan di Metropolis tampak seragam dan teratur, mencerminkan bentuk kepala penduduknya. Kita diperkenalkan kepada karakter utama, Arthur, seorang Square Head muda yang bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan besar yang juga berbentuk kotak. Arthur merasa jenuh dengan rutinitasnya. Setiap hari ia bangun di apartemen berbentuk kotak, pergi bekerja di gedung berbentuk kotak, dan berinteraksi dengan orang-orang berkepala kotak yang berpikiran sama. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, sebuah rasa petualangan dan kebebasan.

Di tempat kerja, Arthur sering kali melamun dan membayangkan dirinya berada di tempat-tempat yang berbeda, bebas dari kekangan Metropolis. Ia kerap kali ditegur oleh atasannya, Mr. Rectangulus, seorang Square Head yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi keteraturan. Mr. Rectangulus menganggap Arthur sebagai karyawan yang kurang berdedikasi karena kurangnya antusiasme terhadap pekerjaannya.

Arthur memiliki seorang teman bernama Beatrice, seorang Square Head yang bekerja sebagai seniman. Beatrice memiliki pandangan yang lebih terbuka dan kreatif daripada kebanyakan penduduk Metropolis. Dia menyadari kejenuhan Arthur dan sering kali mencoba menyemangatinya untuk mencari sesuatu yang membuatnya bahagia. Beatrice percaya bahwa ada lebih banyak hal di luar Metropolis daripada yang diketahui oleh kebanyakan orang. Dia sering menggambar pemandangan alam yang indah, yang sangat kontras dengan arsitektur kota yang serba kotak.

Suatu malam, saat sedang berjalan-jalan di taman kota yang berbentuk kotak, Arthur menemukan sebuah buku tua yang tersembunyi di bawah bangku. Buku itu berjudul "The World Beyond the Edges" dan berisi gambar-gambar dunia yang bulat, dengan pohon-pohon yang melengkung, sungai yang berkelok-kelok, dan langit yang bulat. Arthur sangat terpukau dengan gambar-gambar tersebut, karena sangat berbeda dengan segala sesuatu yang pernah dilihatnya. Buku itu memberinya harapan bahwa ada sesuatu yang lebih di luar Metropolis.

ACT 2 (Conflict)

Arthur menjadi terobsesi dengan buku itu. Dia menghabiskan setiap waktu luangnya untuk membaca dan mempelajari tentang dunia di luar Metropolis. Dia mulai mempertanyakan segala sesuatu yang selama ini dia yakini, termasuk bentuk kepalanya sendiri. Ia merasa bahwa bentuk kepalanya telah membatasi pikirannya dan menghalangi dirinya untuk mengalami kebahagiaan sejati.

Keterobsesan Arthur dengan buku itu mulai memengaruhi pekerjaannya. Dia menjadi semakin lalai dan sering kali membuat kesalahan. Mr. Rectangulus semakin tidak senang dengan kinerjanya dan memperingatkannya bahwa dia akan dipecat jika tidak memperbaiki diri.

Suatu hari, saat sedang membaca buku di tempat kerja, Mr. Rectangulus memergoki Arthur. Mr. Rectangulus sangat marah melihat Arthur membaca sesuatu yang dianggapnya sebagai omong kosong dan propaganda yang membahayakan. Dia menyita buku itu dan memperingatkan Arthur untuk tidak pernah lagi membacanya.

Arthur merasa sangat sedih dan putus asa setelah kehilangan buku itu. Dia merasa bahwa satu-satunya harapannya untuk melarikan diri dari kehidupan yang membosankan telah direnggut darinya. Beatrice melihat kesedihan Arthur dan mencoba menghiburnya. Dia memberitahu Arthur bahwa dia tidak perlu buku untuk mencari kebahagiaan. Dia bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri dengan cara berpikir yang berbeda dan berani mengambil risiko.

Beatrice mengajak Arthur untuk melukis bersamanya di luar tembok kota. Mereka menemukan sebuah tempat tersembunyi di mana mereka bisa melihat pemandangan di luar Metropolis. Arthur terkejut melihat bahwa dunia di luar Metropolis tidak seburuk yang dia bayangkan. Bahkan, dia melihat beberapa bentuk bulat di alam, seperti matahari dan bulan.

Saat sedang melukis, mereka tiba-tiba disergap oleh pasukan keamanan Metropolis. Pasukan keamanan menangkap Arthur dan Beatrice karena melanggar peraturan yang melarang penduduk untuk meninggalkan kota dan membuat seni yang tidak sesuai dengan standar kota.

ACT 3 (Climax)

Arthur dan Beatrice dibawa ke penjara Metropolis, yang juga berbentuk kotak. Di penjara, mereka bertemu dengan tahanan lain yang juga melanggar peraturan kota. Mereka semua memiliki mimpi dan harapan yang berbeda, tetapi mereka semua sepakat bahwa mereka ingin melarikan diri dari kehidupan yang membosankan di Metropolis.

Arthur dan Beatrice memutuskan untuk membuat rencana untuk melarikan diri dari penjara dan mencari dunia di luar Metropolis. Mereka meminta bantuan dari tahanan lain, yang bersedia membantu mereka. Mereka menyusun rencana yang rumit dan berani untuk membobol penjara dan melarikan diri ke padang gurun di luar kota.

Pada malam yang telah ditentukan, Arthur, Beatrice, dan para tahanan lainnya melaksanakan rencana mereka. Mereka berhasil membobol penjara dan melarikan diri ke padang gurun. Pasukan keamanan mengejar mereka, tetapi mereka berhasil melarikan diri.

Setelah berhari-hari berjalan di padang gurun, Arthur, Beatrice, dan para tahanan lainnya menemukan sebuah oasis. Di oasis itu, mereka bertemu dengan sekelompok pengembara yang tinggal di luar Metropolis. Para pengembara memiliki bentuk kepala yang berbeda-beda, ada yang bulat, segitiga, dan bahkan tidak berbentuk sama sekali. Mereka hidup bebas dan bahagia, tanpa terikat oleh peraturan dan norma Metropolis.

Arthur dan Beatrice merasa bahwa mereka akhirnya menemukan tempat di mana mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Mereka memutuskan untuk tinggal di oasis bersama para pengembara dan memulai hidup baru.

ACT 4 (Resolution)

Arthur dan Beatrice belajar banyak hal dari para pengembara. Mereka belajar tentang kebebasan, kreativitas, dan pentingnya menerima perbedaan. Mereka juga belajar bahwa bentuk kepala bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam kepala mereka.

Arthur mulai melukis lagi, tetapi kali ini lukisannya lebih ekspresif dan bebas. Dia tidak lagi takut untuk melanggar aturan dan norma. Beatrice juga terus berkarya, dan seninya menjadi semakin populer di kalangan para pengembara.

Suatu hari, Arthur dan Beatrice kembali ke Metropolis bersama beberapa pengembara. Mereka ingin menunjukkan kepada penduduk Metropolis bahwa ada dunia yang lebih baik di luar sana. Mereka mengadakan pertunjukan seni di alun-alun kota, di mana mereka menampilkan lukisan dan patung yang tidak sesuai dengan standar kota.

Penduduk Metropolis awalnya terkejut dan bingung dengan seni Arthur dan Beatrice. Namun, setelah melihat kebahagiaan dan kebebasan yang mereka rasakan, beberapa penduduk mulai tertarik dan mempertanyakan kehidupan mereka sendiri.

Mr. Rectangulus juga datang ke pertunjukan seni. Awalnya, dia marah dan ingin menghentikan pertunjukan itu. Namun, setelah melihat Arthur dan Beatrice begitu bahagia dan bersemangat, dia mulai menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan.

Mr. Rectangulus memutuskan untuk membebaskan semua tahanan yang masih dipenjara dan mengizinkan penduduk Metropolis untuk meninggalkan kota jika mereka mau. Dia juga berjanji untuk mengubah peraturan dan norma kota agar lebih terbuka dan toleran.

Arthur dan Beatrice berhasil mengubah Metropolis menjadi tempat yang lebih baik. Kota itu tidak lagi seragam dan teratur. Penduduk Metropolis mulai menerima perbedaan dan merayakan kreativitas.

Film berakhir dengan Arthur dan Beatrice berdiri di atas bukit, melihat ke arah Metropolis yang telah berubah. Mereka merasa bahagia dan bangga karena telah berhasil mengubah dunia mereka menjadi tempat yang lebih baik. Mereka tahu bahwa masih banyak yang harus dilakukan, tetapi mereka yakin bahwa mereka bisa melakukannya bersama-sama.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya