See Me, When You Leave - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

See Me, When You Leave

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan pemandangan kota Seoul yang ramai. Kita diperkenalkan dengan Lee Hae-in, seorang fotografer lepas berusia 28 tahun yang berbakat namun pemalu dan sering merasa kesepian. Ia tinggal di sebuah apartemen kecil yang berantakan, penuh dengan foto-foto yang ia ambil. Karyanya dipajang di sebuah galeri kecil lokal, namun ia kesulitan untuk benar-benar dikenal. Hae-in memiliki rutinitas harian yang monoton: bangun, minum kopi, pergi memotret, mengedit foto, dan tidur. Ia jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali pemilik galeri yang baik hati, Nyonya Kim, yang selalu menyemangatinya.

Suatu hari, saat memotret di taman kota, Hae-in melihat seorang pria duduk sendirian di bangku taman. Pria itu tampak sedih dan kesepian. Hae-in, yang merasa terhubung dengannya, mengambil fotonya dari kejauhan. Ia kemudian mengetahui bahwa pria itu bernama Park Sung-woo, seorang penulis novel terkenal yang baru saja kehilangan istrinya karena kecelakaan. Sung-woo sedang berjuang mengatasi kesedihannya dan mengalami writer's block.

Hae-in terobsesi dengan foto Sung-woo. Ia terus-menerus melihatnya dan merasa ingin mendekatinya. Ia bahkan mulai mengikutinya dari kejauhan, memotretnya secara diam-diam. Nyonya Kim, yang menyadari obsesi Hae-in, memperingatkannya untuk tidak melewati batas dan menghormati privasi Sung-woo. Namun, Hae-in tidak bisa menahan diri.

Secara kebetulan, Hae-in bertemu Sung-woo di sebuah toko buku. Ia tidak sengaja menumpahkan kopinya ke baju Sung-woo. Merasa bersalah, Hae-in menawarkan untuk membersihkannya. Sung-woo, yang biasanya tertutup, terkejut dengan keberanian Hae-in dan menyetujuinya. Inilah awal mula hubungan mereka.

ACT 2 (Conflict)

Hae-in dan Sung-woo mulai menghabiskan waktu bersama. Hae-in menunjukkan kepada Sung-woo keindahan kota yang sering ia lewatkan, dan Sung-woo membantu Hae-in untuk lebih percaya diri dengan karyanya. Mereka saling berbagi cerita dan perasaan, dan perlahan-lahan mulai jatuh cinta. Hae-in merasa hidupnya akhirnya memiliki tujuan dan makna, sementara Sung-woo mulai merasakan harapan lagi setelah kehilangan istrinya.

Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus. Hae-in masih menyembunyikan fakta bahwa ia adalah fotografer yang telah mengikutinya dari jauh. Ia takut Sung-woo akan marah dan menjauhinya jika mengetahui kebenarannya. Ketakutan ini menghantuinya dan membuatnya semakin cemas.

Selain itu, kenangan akan istri Sung-woo masih sangat kuat. Sung-woo sering melamun tentang istrinya dan merasa bersalah karena telah move on. Ia juga merasa tidak yakin apakah ia benar-benar mencintai Hae-in atau hanya mencari pelarian dari kesedihannya.

Suatu hari, seorang kurator seni terkenal melihat foto-foto Hae-in di galeri Nyonya Kim. Ia terkesan dengan bakat Hae-in dan menawarkan untuk mengadakan pameran tunggal untuknya. Hae-in sangat senang, tetapi ia juga khawatir karena ia tahu bahwa foto-foto Sung-woo akan menjadi bagian utama dari pamerannya.

Saat Hae-in mempersiapkan pamerannya, ia semakin merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran dari Sung-woo. Ia tahu bahwa ia harus jujur padanya sebelum pameran dibuka, tetapi ia takut akan kehilangan segalanya.

ACT 3 (Climax)

Pameran Hae-in dibuka dengan sukses besar. Banyak orang yang datang dan memuji karyanya, termasuk kurator seni dan kritikus terkenal. Sung-woo juga datang dan terkejut melihat foto-fotonya dipajang di sana. Ia merasa dikhianati dan marah karena Hae-in telah menginvasi privasinya.

Sung-woo menghadapi Hae-in dan menuntut penjelasan. Hae-in mengaku bahwa ia telah mengikutinya dan memotretnya secara diam-diam sejak pertama kali melihatnya di taman. Ia menjelaskan bahwa ia merasa terhubung dengannya dan ingin membantunya mengatasi kesedihannya.

Sung-woo tidak bisa menerima penjelasan Hae-in. Ia merasa bahwa Hae-in telah memanfaatkan kesedihannya untuk keuntungan pribadinya. Ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan pergi dari pameran dengan marah.

Hae-in sangat terpukul dengan reaksi Sung-woo. Ia merasa telah kehilangan segalanya. Ia mengurung diri di apartemennya dan tidak mau bertemu dengan siapa pun. Nyonya Kim mencoba untuk menghiburnya, tetapi Hae-in merasa bahwa ia pantas mendapatkan semua ini.

Beberapa hari kemudian, Sung-woo menemukan sebuah buku catatan di apartemen Hae-in. Di dalamnya, Hae-in telah menulis tentang perasaannya terhadap Sung-woo dan bagaimana ia berharap untuk membantunya. Sung-woo menyadari bahwa Hae-in benar-benar mencintainya dan bahwa ia tidak pernah berniat untuk menyakitinya.

ACT 4 (Resolution)

Sung-woo pergi mencari Hae-in. Ia menemukannya di taman tempat mereka pertama kali bertemu. Ia meminta maaf atas reaksinya dan mengaku bahwa ia juga mencintai Hae-in.

Hae-in dan Sung-woo berbaikan dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka. Mereka belajar untuk saling mempercayai dan menghormati privasi masing-masing. Sung-woo kembali menulis novel, dan Hae-in terus memotret.

Film berakhir dengan Hae-in dan Sung-woo duduk di bangku taman, saling berpegangan tangan. Mereka tersenyum dan melihat ke depan, siap untuk menghadapi masa depan bersama. Adegan terakhir adalah foto yang diambil Hae-in dari Sung-woo, kali ini dengan izinnya, sebuah representasi dari kepercayaan dan cinta yang telah mereka temukan. Foto itu menampilkan Sung-woo yang tersenyum bahagia, bebas dari kesedihan yang dulu melingkupinya.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya