Samar - Cerita Lengkap
Samar
ACT 1 (Setup)
Film dibuka dengan pemandangan hutan Kalimantan yang lebat dan misterius. Suara alam yang mendominasi berpadu dengan musik latar yang mencekam. Kita diperkenalkan pada karakter utama, seorang dokter muda bernama Kirana, yang baru saja tiba di sebuah desa terpencil di pedalaman Kalimantan. Desa itu bernama Desa Samar, sebuah komunitas adat yang hidup jauh dari peradaban modern. Kirana ditugaskan di sana sebagai dokter pengganti selama setahun. Kedatangannya disambut dengan tatapan curiga dan kehati-hatian dari penduduk desa, terutama oleh kepala suku, seorang pria tua dan bijaksana bernama Pak Tua Randu.
Kirana mencoba beradaptasi dengan kehidupan di desa, mempelajari bahasa dan budaya setempat, serta berusaha membangun kepercayaan dengan penduduk. Ia dibantu oleh seorang guru muda bernama Surya, yang lahir dan besar di desa tersebut namun memiliki pandangan yang lebih terbuka terhadap dunia luar. Surya menjadi penerjemah dan penunjuk jalan bagi Kirana, membantunya memahami adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Samar.
Selama beberapa hari pertama, Kirana sibuk mengobati penyakit-penyakit ringan yang umum diderita penduduk desa, seperti demam, batuk, dan luka-luka kecil. Namun, ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Beberapa penduduk desa tampak sakit parah, dengan gejala yang tidak jelas dan sulit didiagnosis. Mereka juga enggan berobat ke Kirana, lebih memilih berobat pada dukun desa, seorang wanita tua yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Suatu malam, seorang anak kecil bernama Bayu jatuh sakit parah. Ibunya, seorang wanita muda bernama Lestari, membawa Bayu ke Kirana dengan harapan dokter muda itu bisa menyelamatkan anaknya. Kirana berusaha sekuat tenaga, namun kondisi Bayu terus memburuk. Ia menduga Bayu menderita penyakit infeksius yang serius dan membutuhkan perawatan medis yang lebih intensif. Kirana menyarankan agar Bayu dibawa ke rumah sakit di kota terdekat, namun Lestari menolak dengan alasan yang tidak jelas.
ACT 2 (Conflict)
Keesokan harinya, Bayu meninggal dunia. Kematian Bayu membuat Kirana merasa terpukul dan bersalah. Ia merasa tidak berdaya menghadapi penyakit misterius yang menyerang penduduk desa. Ia juga merasa frustrasi dengan keengganan penduduk desa untuk mempercayai ilmu kedokteran modern.
Kirana mulai melakukan penyelidikan sendiri untuk mencari tahu penyebab penyakit yang menyerang penduduk desa. Ia memeriksa kondisi lingkungan, sumber air, dan pola makan penduduk. Ia juga mencoba berbicara dengan dukun desa, namun dukun itu menolak memberikan informasi apapun.
Surya membantu Kirana dalam penyelidikannya. Ia menceritakan legenda desa tentang roh-roh jahat yang mendiami hutan dan menyebabkan penyakit. Ia juga menceritakan tentang praktik-praktik mistis yang dilakukan oleh penduduk desa untuk menenangkan roh-roh tersebut. Kirana awalnya skeptis dengan cerita-cerita tersebut, namun ia mulai mempertimbangkan kemungkinan adanya faktor supernatural yang terlibat.
Suatu malam, Kirana melihat Lestari melakukan ritual aneh di hutan. Ia mengikuti Lestari dan menemukan sebuah tempat pemujaan kuno yang tersembunyi di dalam hutan. Di tempat itu, Lestari melakukan persembahan kepada roh-roh jahat, memohon agar penyakit tidak lagi menyerang keluarganya. Kirana berusaha menghentikan Lestari, namun Lestari menolak dan memperingatkan Kirana agar tidak ikut campur dalam urusan mereka.
Kirana melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Tua Randu. Pak Tua Randu mengakui bahwa praktik-praktik mistis masih dilakukan oleh sebagian penduduk desa secara sembunyi-sembunyi. Ia menjelaskan bahwa penduduk desa percaya bahwa penyakit disebabkan oleh kemarahan roh-roh jahat yang merasa terganggu oleh aktivitas manusia di hutan. Pak Tua Randu berjanji akan berusaha menghentikan praktik-praktik mistis tersebut dan membujuk penduduk desa untuk berobat ke Kirana.
Namun, usaha Pak Tua Randu tidak berhasil. Penyakit terus menyebar dan semakin banyak penduduk desa yang meninggal dunia. Penduduk desa semakin panik dan menyalahkan Kirana atas kejadian tersebut. Mereka menuduh Kirana membawa sial dan mengganggu keseimbangan alam.
ACT 3 (Climax)
Kirana merasa terancam dan putus asa. Ia memutuskan untuk meninggalkan desa, namun Surya memohon padanya untuk tetap tinggal dan membantu penduduk desa. Surya meyakinkan Kirana bahwa ia bisa membujuk penduduk desa untuk mempercayai ilmu kedokteran modern.
Bersama-sama, Kirana dan Surya menyusun rencana untuk mengatasi penyakit yang menyerang penduduk desa. Mereka melakukan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengkonsumsi makanan sehat, dan berobat ke dokter jika sakit. Mereka juga memberikan pengobatan gratis kepada penduduk desa yang sakit.
Usaha Kirana dan Surya membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit, penduduk desa mulai mempercayai ilmu kedokteran modern. Mereka mulai berobat ke Kirana dan mengikuti saran-sarannya. Kondisi kesehatan penduduk desa mulai membaik dan jumlah kematian menurun.
Namun, keberhasilan Kirana dan Surya membuat marah dukun desa. Dukun desa merasa kehilangan pengaruh dan kekuasaannya. Ia memutuskan untuk melakukan tindakan balas dendam.
Pada malam yang gelap, dukun desa melakukan ritual sihir untuk memanggil roh-roh jahat. Ia memerintahkan roh-roh jahat untuk menyerang Kirana dan Surya. Kirana dan Surya diserang oleh kekuatan gaib yang dahsyat. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk melawan kekuatan tersebut.
Dalam pertarungan tersebut, Surya terluka parah. Kirana berusaha menyelamatkan Surya, namun ia tidak berdaya. Surya akhirnya meninggal dunia di pelukan Kirana. Kematian Surya membuat Kirana sangat marah dan sedih. Ia bersumpah akan membalas dendam atas kematian Surya.
ACT 4 (Resolution)
Kirana menghadapi dukun desa dalam pertarungan terakhir. Pertarungan tersebut sangat sengit dan penuh dengan kekuatan magis. Kirana menggunakan semua pengetahuannya tentang ilmu kedokteran dan keberaniannya untuk melawan dukun desa.
Pada akhirnya, Kirana berhasil mengalahkan dukun desa. Ia menghancurkan sumber kekuatan dukun desa dan membebaskan roh-roh jahat yang dikendalikannya. Kematian dukun desa mengakhiri teror gaib yang selama ini menghantui desa Samar.
Setelah kejadian tersebut, Kirana memutuskan untuk tetap tinggal di desa Samar. Ia melanjutkan pengabdiannya sebagai dokter dan membantu penduduk desa untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Ia juga membantu penduduk desa untuk melupakan praktik-praktik mistis dan beralih ke ilmu pengetahuan modern.
Film berakhir dengan pemandangan desa Samar yang damai dan sejahtera. Kirana berdiri di tengah-tengah penduduk desa, tersenyum bahagia. Ia telah menemukan makna hidupnya di desa terpencil itu. Ia telah menjadi bagian dari komunitas Samar dan menjadi pahlawan bagi mereka.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.