Pyramiden - Cerita Lengkap
Pyramiden
ACT 1 (Setup)
Film dimulai dengan memperlihatkan pemandangan lanskap Arktik yang membentang luas dan membeku. Kita diperkenalkan pada Andreas, seorang fotografer Norwegia, dan rekannya, Kajsa, seorang pemandu wisata. Mereka melakukan perjalanan dengan kapal menuju Pyramiden, sebuah kota tambang batubara Soviet yang ditinggalkan di Svalbard, Norwegia. Andreas terpesona dengan kota hantu itu, tertarik pada sejarah dan suasananya yang membeku dalam waktu.
Kapal berlayar melewati perairan es, memperlihatkan pemandangan gunung es dan padang gurun putih. Andreas dan Kajsa bergabung dengan beberapa turis lainnya, mereka semua tampak penasaran dengan tujuan perjalanan mereka. Kajsa menjelaskan sejarah singkat Pyramiden, dibangun oleh Swedia dan kemudian dijual kepada Uni Soviet, kota itu pernah menjadi contoh kejayaan Soviet dan ditinggalkan dengan tergesa-gesa pada tahun 1998 setelah jatuhnya Uni Soviet dan kerugian ekonomi yang melanda tambang batubara.
Saat mereka mendekati Pyramiden, siluet piramida besar yang menjadi ciri khas kota itu terlihat. Turis-turis itu takjub. Setelah berlabuh, mereka disambut oleh Sasha, satu-satunya penghuni Pyramiden, seorang pemandu wisata Rusia yang menjaga kota itu tetap berfungsi dan menjalankan tur. Sasha memberi tahu mereka tentang aturan ketat: tidak boleh merusak atau mengambil apa pun dari kota. Dia menekankan pentingnya menghormati sejarah dan menjaga kota itu seperti apa adanya.
Tur dimulai. Andreas secara khusus terpesona dengan setiap detail, mengabadikan semuanya dengan kameranya. Mereka mengunjungi aula budaya dengan piano Steinway masih di atas panggung, perpustakaan dengan buku-buku utuh, kantin dengan peralatan makan yang tertinggal, dan apartemen-apartemen yang masih lengkap dengan perabotan dan barang-barang pribadi. Andreas merasa terhubung dengan kehidupan orang-orang yang pernah tinggal di sana, seolah waktu telah berhenti.
Malam tiba. Turis-turis itu kembali ke kapal untuk bermalam, tetapi Andreas meminta izin untuk tinggal satu malam di Pyramiden. Dia meyakinkan Sasha bahwa dia akan berhati-hati dan menghormati kota itu. Sasha setuju dengan enggan, memberi Andreas sebuah senapan untuk perlindungan dari beruang kutub dan radio untuk komunikasi.
ACT 2 (Conflict)
Setelah turis lain pergi, Andreas sendirian di Pyramiden. Dia menjelajahi kota lebih jauh, memasuki gedung-gedung yang belum dia lihat sebelumnya. Suasana menjadi semakin menakutkan dan sunyi. Dia merasa seperti diawasi.
Saat dia berjalan, dia mendengar suara-suara aneh: bisikan, derit, dan suara-suara yang tidak dapat dijelaskan. Dia awalnya mengira itu hanya imajinasinya, efek dari kesunyian dan kesendirian yang ekstrem. Namun, suara-suara itu menjadi lebih jelas dan sering.
Di sebuah ruangan, Andreas menemukan foto-foto lama penduduk Pyramiden. Dia melihat wajah-wajah bahagia, keluarga, dan anak-anak. Dia merasakan rasa kehilangan yang mendalam dan merasa bersalah karena dia telah memasuki kehidupan mereka yang telah lama hilang.
Saat malam semakin larut, Andreas merasa semakin tidak nyaman. Suara-suara itu semakin intensif. Dia melihat bayangan-bayangan bergerak di sudut matanya. Dia mulai percaya bahwa kota itu dihantui, bukan hanya oleh ingatan, tetapi oleh sesuatu yang lebih nyata.
Andreas mencoba menghubungi Sasha melalui radio, tetapi tidak ada jawaban. Radio itu mati. Dia terisolasi sepenuhnya, terperangkap di kota hantu.
Panik, Andreas mencoba melarikan diri, tetapi dia tersesat di labirin bangunan-bangunan yang identik. Setiap lorong tampak sama, dan dia tidak dapat menemukan jalan keluar. Dia merasa seperti kota itu hidup dan mencoba menjebaknya.
Dalam keputusasaannya, Andreas menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Di dalam ruangan itu, dia menemukan buku catatan yang berisi catatan-catatan aneh dan gambar-gambar aneh. Buku itu ditulis dalam bahasa Rusia, tetapi Andreas dapat mengenali beberapa gambar yang menunjukkan ritual dan simbol-simbol okultisme.
Andreas menyadari bahwa Pyramiden memiliki rahasia gelap, sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar kota yang ditinggalkan. Dia menyadari bahwa suara-suara dan penampakan-penampakan yang dia alami mungkin bukan hanya halusinasi, tetapi manifestasi dari sesuatu yang jahat yang masih bersembunyi di kota itu.
ACT 3 (Climax)
Andreas memutuskan untuk mengungkap rahasia Pyramiden. Dia menggunakan buku catatan itu sebagai panduan, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di kota itu sebelum ditinggalkan.
Dia kembali ke aula budaya dan menemukan pintu rahasia di belakang panggung. Pintu itu menuju ke ruang bawah tanah gelap dan sempit. Andreas ragu-ragu, tetapi rasa ingin tahu dan dorongan untuk mengungkap kebenaran mendorongnya untuk maju.
Di ruang bawah tanah, Andreas menemukan altar yang ditutupi dengan simbol-simbol okultisme yang sama seperti di buku catatan. Dia juga menemukan beberapa benda aneh: tengkorak manusia, tulang-tulang binatang, dan jimat-jimat aneh.
Saat dia memeriksa altar, dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia bersembunyi di balik dinding dan mengintip keluar. Dia melihat seorang sosok berjubah hitam berjalan ke arah altar. Sosok itu mengenakan topeng aneh dan membawa pisau ritual.
Andreas menyadari bahwa dia telah menemukan sekte rahasia yang masih beroperasi di Pyramiden. Mereka telah menggunakan kota itu sebagai tempat perlindungan untuk melakukan ritual-ritual gelap mereka.
Sosok berjubah mulai melakukan ritual di altar. Dia melantunkan kata-kata aneh dalam bahasa yang tidak dikenal Andreas. Suasana menjadi semakin menakutkan dan menyesakkan.
Andreas memutuskan untuk menghentikan ritual itu. Dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan menyerang sosok berjubah itu dengan senapannya.
Terjadi perkelahian singkat dan sengit. Sosok berjubah itu sangat kuat dan tangkas. Andreas nyaris tidak bisa bertahan.
Akhirnya, Andreas berhasil merebut pisau dari sosok berjubah itu dan menusuknya. Sosok itu jatuh ke tanah, mati.
Andreas merasa lega, tetapi dia tahu bahwa dia belum aman. Mungkin ada anggota sekte lainnya yang bersembunyi di kota itu.
ACT 4 (Resolution)
Andreas melarikan diri dari ruang bawah tanah dan kembali ke permukaan. Dia berlari sejauh mungkin dari aula budaya, mencoba mencari jalan keluar dari Pyramiden.
Saat dia berlari, dia mendengar suara-suara mengejar di belakangnya. Dia melihat bayangan-bayangan bergerak di sudut matanya. Dia tahu bahwa anggota sekte lainnya mengejarnya.
Andreas mencapai dermaga tempat kapalnya berlabuh. Dia melompat ke kapal dan mencoba menghidupkan mesinnya.
Anggota sekte mengepung kapal. Mereka melemparkan batu dan berteriak.
Andreas berhasil menghidupkan mesinnya dan berlayar menjauh dari Pyramiden.
Saat dia menjauh, dia melihat api berkobar di aula budaya. Anggota sekte telah membakar kota itu.
Andreas menyaksikan Pyramiden terbakar menjadi abu. Dia merasa sedih dan lega. Dia telah mengungkap rahasia gelap kota itu dan melarikan diri dengan nyawanya, tetapi dia juga telah kehilangan sesuatu yang berharga.
Film berakhir dengan Andreas kembali ke Norwegia. Dia mempublikasikan foto-fotonya dari Pyramiden, mengungkapkan sejarah kota itu kepada dunia. Dia juga menulis sebuah buku tentang pengalamannya, menceritakan kisah tentang teror dan misteri yang dia temukan di kota hantu itu.
Andreas tidak pernah melupakan Pyramiden. Kota itu menghantuinya dalam mimpi dan ingatan. Dia tahu bahwa dia telah menyaksikan sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang tidak seharusnya dilihat oleh siapa pun. Tetapi dia juga tahu bahwa dia telah melakukan hal yang benar, mengungkap kebenaran dan membawa keadilan bagi kota yang telah lama ditinggalkan itu.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.