Plat en blanc - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱ 4 menit membaca

Plat en blanc

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan pemandangan sebuah perkebunan anggur yang luas dan indah di wilayah pedesaan Prancis. Udara pagi yang sejuk dan embun membasahi dedaunan. Kita diperkenalkan pada Antoine, seorang pemuda tampan yang bekerja sebagai pemetik anggur di perkebunan tersebut. Ia terlihat cekatan dan mahir dalam pekerjaannya, namun tatapan matanya menyimpan kesedihan dan kerinduan. Antoine tinggal bersama kakeknya, Emile, seorang pria tua yang keras kepala namun penyayang. Emile adalah pemilik perkebunan, yang telah diwariskan turun temurun dalam keluarga mereka.

Antoine merasa tertekan oleh harapan kakeknya agar dia meneruskan tradisi keluarga dan menjadi pembuat anggur. Ia lebih tertarik pada seni, khususnya melukis. Ia memiliki buku sketsa yang selalu dibawanya dan sering mencuri waktu untuk menggambar pemandangan sekitar dan wajah orang-orang yang ditemuinya. Namun, ia menyembunyikan bakatnya dari Emile, karena takut akan kekecewaan kakeknya.

Suatu hari, sebuah mobil mewah memasuki perkebunan. Dari mobil tersebut turun seorang wanita muda bernama Léa. Léa adalah seorang kritikus seni terkenal dari Paris. Ia datang ke perkebunan atas undangan seorang teman untuk berlibur dan mencari inspirasi. Pertemuan pertama Antoine dan Léa tidak berjalan mulus. Antoine menganggap Léa sombong dan angkuh, sementara Léa merasa Antoine kasar dan tidak ramah.

Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai menghabiskan waktu bersama. Léa tertarik pada keindahan alam pedesaan dan meminta Antoine untuk menemaninya menjelajahi perkebunan. Antoine, yang awalnya enggan, mulai luluh oleh pesona Léa. Ia menunjukkan Léa tempat-tempat tersembunyi di perkebunan, menceritakan sejarah keluarga mereka, dan bahkan memperlihatkan buku sketsanya. Léa terkejut dengan bakat Antoine dan mendorongnya untuk mengejar mimpinya.

ACT 2 (Conflict)

Hubungan Antoine dan Léa semakin dekat. Mereka saling jatuh cinta. Namun, hubungan mereka terancam oleh dua hal: perbedaan latar belakang dan harapan Emile. Emile tidak menyukai Léa. Ia menganggap Léa sebagai orang asing yang akan membawa pengaruh buruk bagi Antoine. Ia ingin Antoine menikahi seorang gadis desa yang akan membantu Antoine mengelola perkebunan.

Selain itu, Léa memiliki masa lalu yang kelam. Ia pernah mengalami kegagalan dalam hubungan sebelumnya dan takut untuk membuka hatinya lagi. Ia juga khawatir tentang reaksi keluarganya jika ia menjalin hubungan dengan seorang pemetik anggur dari desa.

Antoine terjebak di antara cintanya pada Léa dan kewajibannya pada kakeknya. Ia berusaha meyakinkan Emile untuk menerima Léa, namun Emile tetap keras kepala. Léa, di sisi lain, memutuskan untuk kembali ke Paris, karena merasa tidak pantas untuk Antoine dan tidak ingin menjadi penghalang bagi Antoine untuk memenuhi harapan kakeknya.

Kepergian Léa membuat Antoine patah hati. Ia merasa kehilangan arah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia mulai melampiaskan kekesalannya dengan bekerja lebih keras di perkebunan, namun hatinya tetap kosong. Emile, yang melihat penderitaan Antoine, mulai merenungkan tindakannya. Ia menyadari bahwa ia telah terlalu keras pada Antoine dan bahwa ia mungkin telah membuat kesalahan dengan memaksa Antoine untuk mengikuti tradisi keluarga.

ACT 3 (Climax)

Suatu malam, terjadi badai besar yang menghantam perkebunan. Angin kencang merusak kebun anggur dan menghancurkan gudang anggur. Emile terluka parah saat berusaha melindungi kebun anggur. Antoine berusaha menyelamatkan kakeknya, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Emile dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.

Di rumah sakit, Emile menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Antoine karena telah mengekang impiannya. Ia mengatakan bahwa yang terpenting adalah Antoine bahagia dan bahwa ia harus mengikuti kata hatinya. Emile kemudian meninggal dunia.

Kematian Emile membuat Antoine semakin terpuruk. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan kakeknya. Ia juga merasa bersalah karena telah meninggalkan perkebunan saat kakeknya membutuhkannya. Namun, kematian Emile juga memberikan Antoine kekuatan untuk mengejar mimpinya. Ia memutuskan untuk menjual perkebunan dan menggunakan uangnya untuk kuliah seni di Paris.

Sebelum berangkat ke Paris, Antoine mengunjungi tempat yang sering dikunjungi bersama Léa. Di sana, ia menemukan sebuah lukisan yang ditinggalkan Léa untuknya. Lukisan tersebut adalah potret Antoine yang sedang memetik anggur. Di bagian belakang lukisan tersebut, Léa menulis pesan singkat: "Ikuti hatimu."

ACT 4 (Resolution)

Antoine tiba di Paris dan mendaftar di akademi seni. Ia belajar dengan giat dan menunjukkan bakat yang luar biasa. Ia bertemu dengan teman-teman baru yang mendukung impiannya. Namun, ia tetap merindukan Léa.

Suatu hari, Antoine mengunjungi sebuah galeri seni di Paris. Ia terkejut melihat lukisan-lukisannya dipajang di galeri tersebut. Ia bertanya kepada pemilik galeri tentang lukisan-lukisan tersebut. Pemilik galeri mengatakan bahwa lukisan-lukisan tersebut dikirim oleh seorang kritikus seni bernama Léa.

Antoine mencari Léa dan menemukan bahwa Léa telah menunggunya. Mereka saling berpelukan dan mengungkapkan cinta mereka. Léa mengatakan bahwa ia telah menyadari kesalahannya dan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Antoine.

Film berakhir dengan adegan Antoine dan Léa berjalan bergandengan tangan di jalanan Paris. Antoine telah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia telah berhasil mengejar mimpinya dan menemukan cinta sejatinya. Ia belajar bahwa tidak ada yang salah dengan mengikuti kata hati dan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya