I'll Never Let You Go - Cerita Lengkap
I'll Never Let You Go
ACT 1 (Setup)
Kisah dimulai di sebuah pelabuhan di Marseille, Perancis, pada akhir abad ke-19. Seorang pria bernama Benjamin Barker, seorang pedagang Amerika kaya raya dan berpengaruh, tiba dengan kapal. Ia adalah seorang kolektor seni yang bersemangat dan mencari artefak langka di seluruh dunia. Di pelabuhan itu, ia bertemu dengan seorang wanita muda cantik dan misterius bernama Marianne. Marianne bekerja sebagai penari jalanan, menghibur para pelaut dan turis dengan kecantikannya dan tarian yang memukau.
Benjamin terpikat pada Marianne sejak pandangan pertama. Ia tertarik pada kecantikannya yang eksotis, semangatnya yang bebas, dan aura misterius yang mengelilinginya. Ia mendekatinya dan menawarkan sejumlah besar uang untuk menemaninya selama beberapa hari sebagai pemandu dan penerjemah di kota itu. Marianne, yang membutuhkan uang untuk menghidupi dirinya sendiri dan adiknya yang sakit, akhirnya setuju.
Selama beberapa hari berikutnya, Benjamin dan Marianne menjelajahi Marseille bersama-sama. Benjamin terpesona oleh pengetahuan Marianne tentang kota itu, sejarahnya, dan budaya lokal. Marianne, pada gilirannya, terkesan dengan kecerdasan Benjamin, kemurahan hatinya, dan rasa hormatnya padanya. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan mereka, mimpi mereka, dan ketakutan mereka. Perlahan tapi pasti, mereka jatuh cinta.
Namun, hubungan mereka menghadapi tentangan dari berbagai pihak. Keluarga Benjamin di Amerika tidak menyetujui hubungannya dengan seorang wanita dari kelas bawah dan latar belakang yang berbeda. Teman-teman Benjamin di Marseille memperingatkannya tentang reputasi Marianne sebagai wanita yang tidak bisa dipercaya. Dan seorang pria bernama Viktor, seorang gangster lokal yang terobsesi dengan Marianne, mengancam akan menyakiti Benjamin jika ia tidak menjauhi Marianne.
Marianne juga menyimpan rahasia kelam dari masa lalunya. Ia adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan di jalanan Marseille. Ia pernah menjadi korban kekerasan dan eksploitasi. Ia takut bahwa jika Benjamin mengetahui masa lalunya, ia akan meninggalkannya.
ACT 2 (Conflict)
Benjamin mengabaikan peringatan dari teman-temannya dan keluarganya. Ia semakin jatuh cinta pada Marianne dan memutuskan untuk melamarnya. Ia memberinya sebuah cincin berlian yang berharga dan berjanji untuk mencintainya selamanya. Marianne sangat terkejut dan terharu dengan lamaran Benjamin. Ia menerima lamarannya dengan air mata bahagia.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Viktor, yang marah dan cemburu dengan hubungan mereka, merencanakan untuk menculik Marianne dan menyakitinya. Ia menyewa beberapa preman untuk menculik Marianne dari rumahnya. Benjamin, yang mengetahui rencana Viktor, mencoba untuk menyelamatkan Marianne. Ia melawan para preman, tetapi ia kalah jumlah dan terluka parah.
Marianne diculik oleh Viktor dan dibawa ke sebuah gudang terpencil di luar kota. Viktor menyiksa Marianne untuk mencoba membuatnya mencintainya. Ia mengancam akan membunuhnya jika ia tidak menyerah pada keinginannya. Marianne menolak untuk menyerah dan tetap setia pada Benjamin.
Sementara itu, Benjamin pulih dari luka-lukanya dan berusaha mencari Marianne. Ia meminta bantuan dari teman-temannya di Marseille. Mereka membantu Benjamin melacak Viktor dan menemukan tempat persembunyiannya.
ACT 3 (Climax)
Benjamin dan teman-temannya menyerbu gudang tempat Marianne disekap. Terjadi pertempuran sengit antara Benjamin dan Viktor serta anak buahnya. Benjamin berhasil mengalahkan para preman, tetapi ia harus menghadapi Viktor sendirian. Viktor bersenjatakan pisau dan bertekad untuk membunuh Benjamin.
Benjamin dan Viktor bertarung dengan sengit. Benjamin terluka beberapa kali, tetapi ia tidak menyerah. Ia berjuang untuk menyelamatkan Marianne dan membuktikan cintanya padanya. Akhirnya, Benjamin berhasil melucuti Viktor dan mengalahkannya. Ia menyelamatkan Marianne dari Viktor dan membawanya pergi dari gudang.
Namun, Viktor tidak menyerah. Ia bangkit kembali dan mengejar Benjamin dan Marianne. Ia menembak Benjamin dari belakang, melukainya parah. Marianne berteriak histeris dan mencoba melindungi Benjamin. Viktor mencoba untuk membunuh Marianne, tetapi Benjamin mendorongnya dan menerima tembakan itu sendiri.
Benjamin jatuh ke tanah, terluka parah. Marianne memeluknya erat-erat dan menangis. Benjamin mengatakan padanya bahwa ia mencintainya dan bahwa ia tidak akan pernah meninggalkannya. Ia kemudian meninggal di pelukan Marianne.
ACT 4 (Resolution)
Marianne hancur karena kematian Benjamin. Ia berjanji untuk membalas dendam pada Viktor dan membawa keadilan bagi Benjamin. Ia menggunakan uang yang ditinggalkan Benjamin untuk menyewa pengacara dan membawa Viktor ke pengadilan. Viktor dinyatakan bersalah atas pembunuhan Benjamin dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Setelah keadilan ditegakkan, Marianne memutuskan untuk meninggalkan Marseille dan memulai hidup baru. Ia menggunakan uang yang ditinggalkan Benjamin untuk membuka sebuah sekolah untuk anak-anak yatim piatu di sebuah desa terpencil di pegunungan. Ia mengabdikan hidupnya untuk membantu anak-anak yang membutuhkan dan memastikan bahwa mereka tidak akan pernah mengalami penderitaan yang sama seperti yang ia alami.
Marianne tidak pernah melupakan Benjamin. Ia selalu mengenangnya sebagai pria yang mencintainya tanpa syarat dan yang memberikan harapan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia tahu bahwa meskipun Benjamin telah meninggal, cintanya akan tetap hidup selamanya di hatinya. Ia tahu bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Benjamin, dan bahwa ia akan selalu mencintainya sampai akhir hayatnya. Sekolah yang ia dirikan dinamainya untuk mengenang Benjamin, sebagai simbol cinta abadi mereka.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.