House of Abraham - Cerita Lengkap
House of Abraham
ACT 1 (Setup)
Film dibuka dengan adegan di Yerusalem, memperlihatkan lanskap kota yang dipenuhi situs-situs suci bagi tiga agama Ibrahim: Islam, Kristen, dan Yahudi. Suara narasi seorang sejarawan, Dr. Elias Khoury, memperkenalkan konsep "Rumah Abraham" sebagai metafora untuk persaudaraan dan kesamaan akar ketiga agama tersebut. Elias, seorang Kristen Palestina yang lahir dan besar di Yerusalem, menjelaskan bagaimana narasi politik dan sejarah telah merenggangkan hubungan antarumat beragama, terutama di Tanah Suci.
Kita diperkenalkan kepada Rabbi David, seorang rabi reformis dari New York yang datang ke Yerusalem dengan harapan memulai dialog antaragama. David adalah sosok idealis yang percaya pada potensi rekonsiliasi. Dia bertemu dengan Imam Yusuf, seorang imam progresif dari sebuah masjid di London yang juga memiliki pandangan serupa. Yusuf lahir dan besar di Inggris, dan menyaksikan langsung dampak Islamofobia dan prasangka agama lainnya. Kedua tokoh agama ini bertemu secara kebetulan di sebuah konferensi tentang perdamaian antaragama.
Elias Khoury berperan sebagai mediator antara David dan Yusuf. Elias membawa mereka berkeliling Yerusalem, memperlihatkan kepada mereka situs-situs penting dan menceritakan kisah-kisah sejarah yang terlupakan. Mereka mengunjungi Tembok Ratapan, Dome of the Rock, dan Gereja Makam Suci. Di setiap lokasi, mereka berdiskusi tentang interpretasi agama yang berbeda dan bagaimana sejarah telah membentuk pandangan masing-masing.
Selama kunjungan mereka, mereka bertemu dengan berbagai tokoh masyarakat, termasuk warga sipil, akademisi, dan tokoh agama lainnya. Beberapa menyambut baik inisiatif mereka, sementara yang lain skeptis dan curiga. Mereka menghadapi resistensi dari kelompok-kelompok garis keras yang menolak segala bentuk dialog atau kompromi.
ACT 2 (Conflict)
Ketegangan mulai meningkat ketika David dan Yusuf mengumumkan rencana mereka untuk mengadakan pertemuan doa bersama di Yerusalem, yang akan dihadiri oleh perwakilan dari ketiga agama. Rencana ini memicu kontroversi dan oposisi dari berbagai pihak.
Kelompok-kelompok garis keras Yahudi menuduh David mengkhianati agamanya dan mengompromikan identitas Yahudi. Mereka mengorganisir protes dan kampanye untuk menggagalkan pertemuan doa tersebut. Sementara itu, kelompok-kelompok garis keras Islam menuduh Yusuf menormalisasi hubungan dengan Israel dan mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Mereka juga mengancam akan melakukan tindakan kekerasan jika pertemuan doa tetap dilaksanakan.
Tekanan juga datang dari pihak berwenang Israel dan Palestina. Mereka khawatir bahwa pertemuan doa tersebut akan memicu kerusuhan dan kekerasan. Mereka meminta David dan Yusuf untuk membatalkan acara tersebut demi menjaga keamanan.
Elias Khoury, yang awalnya mendukung inisiatif David dan Yusuf, mulai meragukan keberhasilannya. Dia menyadari bahwa situasi politik dan sosial di Yerusalem terlalu kompleks dan sensitif untuk diatasi dengan pertemuan doa sederhana. Dia memperingatkan David dan Yusuf tentang bahaya yang mungkin terjadi dan menyarankan mereka untuk mempertimbangkan kembali rencana mereka.
David dan Yusuf menghadapi dilema moral. Mereka percaya bahwa pertemuan doa tersebut adalah langkah penting menuju rekonsiliasi dan perdamaian. Namun, mereka juga menyadari bahwa tindakan mereka dapat membahayakan nyawa orang lain. Mereka harus memutuskan apakah akan melanjutkan rencana mereka atau mengalah pada tekanan.
ACT 3 (Climax)
Meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, David dan Yusuf memutuskan untuk tetap melanjutkan pertemuan doa. Mereka percaya bahwa penting untuk mengirimkan pesan harapan dan persatuan kepada dunia. Mereka bekerja sama dengan Elias Khoury untuk mempersiapkan acara tersebut dan memastikan keamanan semua peserta.
Pada hari pertemuan doa, ribuan orang dari berbagai agama berkumpul di Yerusalem. Suasana tegang dan penuh antisipasi. Kelompok-kelompok garis keras mengorganisir protes di luar lokasi pertemuan, tetapi mereka dijaga ketat oleh polisi.
Pertemuan doa dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci dari kitab suci masing-masing agama. David, Yusuf, dan Elias memberikan pidato yang menekankan kesamaan dan persaudaraan antarumat beragama. Mereka menyerukan perdamaian, toleransi, dan rekonsiliasi.
Saat pertemuan doa berlangsung, terjadi kerusuhan di luar lokasi. Kelompok-kelompok garis keras bentrok dengan polisi dan peserta pertemuan doa. Beberapa orang terluka dan ditangkap. Situasi semakin tidak terkendali.
Di tengah kekacauan, seorang penembak jitu yang tidak dikenal menembak ke arah kerumunan. David dan Yusuf tertembak dan terluka parah. Elias Khoury mencoba melindungi mereka, tetapi dia juga terluka.
ACT 4 (Resolution)
Penembakan tersebut menyebabkan kepanikan dan kekacauan. Pertemuan doa dibubarkan dan para peserta melarikan diri. David dan Yusuf dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Meskipun terluka, David dan Yusuf tetap hidup. Mereka menjadi simbol harapan dan inspirasi bagi banyak orang. Peristiwa penembakan tersebut memicu kecaman dari seluruh dunia dan mendorong seruan untuk perdamaian dan rekonsiliasi.
Elias Khoury, yang juga selamat dari penembakan, memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk mempromosikan dialog antaragama dan perdamaian. Dia mendirikan sebuah organisasi yang bernama "Rumah Abraham" yang bertujuan untuk membangun jembatan antara umat beragama yang berbeda.
Film berakhir dengan adegan di Yerusalem, memperlihatkan orang-orang dari berbagai agama berdoa bersama di lokasi penembakan. Suara narasi Elias Khoury mengatakan bahwa meskipun ada tantangan dan rintangan, harapan untuk perdamaian dan persaudaraan tetap ada. Dia percaya bahwa suatu hari, "Rumah Abraham" akan menjadi kenyataan. Film ditutup dengan pesan tentang pentingnya toleransi, pengertian, dan kerjasama dalam membangun dunia yang lebih baik.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.