Final Destination Bloodlines - Cerita Lengkap
Final Destination Bloodlines
ACT 1 (Setup)
Cerita dimulai di kota New Orleans saat perayaan Mardi Gras. Sekelompok teman, Tyler, Ashley, Nathan, Sarah, Emily, dan Chris, berkumpul untuk menikmati parade. Suasana riang gembira, namun firasat buruk menghantui Tyler. Mereka berada di sebuah balkon yang menghadap jalanan, tepat di atas rute parade. Tyler melihat kilasan-kilasan aneh; sebuah gerobak hias yang penuh dengan lampu dan dekorasi yang tampaknya tidak stabil. Ia melihat bayangan-bayangan dari masa lalu, kecelakaan-kecelakaan mengerikan yang melibatkan anggota keluarganya.
Firasatnya menjadi kenyataan ketika tali yang menahan gerobak hias terputus. Gerobak itu roboh, menimpa kerumunan di bawah, termasuk balkon tempat teman-teman itu berdiri. Balon ambruk, menjatuhkan mereka ke jalanan. Tyler, dalam momen terakhir, mendorong Ashley dari jalan gerobak hias, menyelamatkannya. Semua teman-temannya, kecuali Tyler, terbunuh dalam kejadian itu.
Tyler terbangun di rumah sakit, merasa bersalah dan trauma. Ia diberitahu bahwa ia adalah satu-satunya yang selamat dari insiden balkon. Seorang detektif bernama Malone mewawancarai Tyler, mencurigai adanya sesuatu yang aneh. Malone menemukan adanya kesamaan antara insiden ini dan serangkaian kecelakaan tragis lainnya yang menimpa keluarga Tyler dan teman-temannya di masa lalu. Malone menaruh perhatian pada buku harian kakek buyut Tyler yang menyebutkan ramalan mengerikan.
Tyler mulai mengalami penglihatan tentang kematian yang akan datang. Ia menyadari bahwa ia dan Ashley, yang juga selamat meskipun terluka parah, seharusnya mati di balkon itu. Kematian sedang mengejar mereka, mencoba "mengoreksi" kesalahan yang terjadi. Tyler membaca buku harian kakek buyutnya dan mengetahui bahwa keluarganya memiliki sejarah panjang dengan kematian yang selalu mengintai. Kakek buyutnya, seorang pekerja galangan kapal, pernah lolos dari maut dalam kecelakaan kapal feri pada tahun 1910, namun kematian terus mengejar keturunannya. Tyler dan Ashley sekarang menjadi target kematian.
ACT 2 (Conflict)
Tyler, dibantu oleh Ashley yang masih trauma, mulai berusaha untuk mencari cara untuk menghindari kematian. Mereka meneliti kecelakaan-kecelakaan di masa lalu yang menimpa keluarga mereka, mencari pola atau petunjuk tentang bagaimana cara mengalahkan kematian. Mereka menemukan bahwa ada celah; jika seseorang menyelamatkan nyawa orang lain, mereka dapat menunda kematian. Namun, itu hanya penundaan sementara.
Kematian mulai menjangkau mereka dengan kecelakaan-kecelakaan yang semakin kompleks dan aneh. Pertama, Ashley hampir terbunuh di rumah sakit ketika kabel lift terputus. Tyler berhasil menyelamatkannya. Selanjutnya, Tyler hampir tertimpa tumpukan peti kemas saat bekerja di pelabuhan, tetapi ia berhasil lolos berkat intervensi Ashley. Mereka berdua menyadari bahwa mereka harus bekerja sama untuk bertahan hidup.
Mereka mencari bantuan seorang ahli paranormal bernama Amelia, yang memiliki pengetahuan tentang kematian dan cara kerjanya. Amelia menjelaskan bahwa kematian memiliki "rencana" dan bahwa mereka, sebagai orang-orang yang selamat, mengacaukan rencana tersebut. Kematian akan terus mengejar mereka sampai rencananya terpenuhi. Amelia menyarankan agar mereka mencari artefak kuno yang diyakini memiliki kekuatan untuk mengendalikan takdir. Artefak tersebut, sebuah kalung kuno, dipercaya dapat membalikkan nasib buruk.
Pencarian kalung itu membawa mereka ke sebuah museum sejarah di New Orleans. Mereka harus berpacu dengan waktu, menghindari jebakan-jebakan yang diatur oleh kematian, seperti lampu gantung yang jatuh, patung yang bergerak sendiri, dan sistem keamanan yang tiba-tiba malfunction. Mereka berhasil menemukan kalung tersebut, namun Amelia terbunuh oleh serangkaian kejadian aneh setelah memberi tahu mereka lokasi kalung tersebut.
ACT 3 (Climax)
Dengan kalung di tangan, Tyler dan Ashley mencoba untuk menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan kematian. Mereka menyadari bahwa kalung itu tidak dapat menghentikan kematian sepenuhnya, tetapi dapat memberikan mereka sedikit keuntungan. Mereka harus memahami cara kerja kematian dan memprediksi langkah selanjutnya.
Detektif Malone, yang masih mencurigai Tyler dan Ashley, terus mengikuti mereka. Malone mulai percaya pada kutukan keluarga Tyler ketika ia menyaksikan sendiri beberapa kejadian aneh yang hampir membahayakan nyawa Tyler dan Ashley. Malone memutuskan untuk membantu mereka, meskipun ia tahu bahwa ia mungkin mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Tyler dan Ashley menemukan bahwa kematian akan mencoba untuk membunuh mereka pada saat dan tempat yang sama di mana mereka seharusnya mati di awal cerita, yaitu saat Mardi Gras di balkon itu. Mereka berencana untuk kembali ke balkon itu dan mencoba untuk mengubah takdir mereka. Mereka menyiapkan serangkaian jebakan dan rencana cadangan, memanfaatkan pengetahuan mereka tentang kecelakaan-kecelakaan sebelumnya.
Saat Mardi Gras, Tyler, Ashley, dan Malone kembali ke balkon. Kematian mulai mengaktifkan serangkaian kejadian, mencoba untuk meniru kecelakaan awal. Namun, Tyler dan Ashley siap. Mereka berhasil menghindari beberapa jebakan kematian, menyelamatkan beberapa orang lain dalam prosesnya. Malone membantu dengan mengamankan area tersebut dan memperingatkan orang-orang.
Saat gerobak hias yang sama mulai roboh lagi, Tyler dan Ashley menggunakan kalung itu untuk sedikit mengubah arahnya. Gerobak itu masih menimpa balkon, tetapi tidak dengan kekuatan penuh seperti sebelumnya.
ACT 4 (Resolution)
Dalam kekacauan itu, Malone tertimpa reruntuhan balkon dan terluka parah. Tyler dan Ashley harus memutuskan apakah mereka akan menyelamatkan Malone, yang akan menunda kematian mereka, atau membiarkannya mati dan mungkin mengakhiri kutukan tersebut. Tyler, mengingat pengorbanan teman-temannya, memutuskan untuk menyelamatkan Malone. Ashley membantu menarik reruntuhan dari Malone, menyelamatkan nyawanya.
Setelah kejadian itu, Tyler dan Ashley merasa lega. Mereka percaya bahwa mereka telah berhasil mengalahkan kematian untuk saat ini. Malone pulih di rumah sakit. Namun, adegan terakhir menunjukkan kilasan-kilasan yang mengganggu, seperti bayangan-bayangan aneh dan suara-suara dari masa lalu.
Film berakhir dengan Tyler dan Ashley berjalan menjauh dari balkon, saling berpegangan tangan. Mereka tahu bahwa kematian mungkin masih mengintai di sekitar sudut, tetapi mereka siap untuk menghadapinya bersama-sama. Kalung itu tetap berada di tangan mereka, mengingatkan mereka tentang kekuatan takdir dan pentingnya pilihan yang mereka buat. Nasib mereka belum sepenuhnya ditentukan.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.