长安的荔枝 - Cerita Lengkap
ACT 1 (Setup)
Kisah dimulai di Chang'an, ibukota Dinasti Tang yang megah. Li Shande, seorang pejabat rendahan di Kementerian Ritus, hidup dalam tekanan dan merasa tidak dihargai. Ia menghabiskan hari-harinya mengurus dokumen dan menghadiri upacara-upacara tanpa arti, jauh dari ambisi dan harapan masa mudanya. Suatu hari, kaisar memberikan titah mengejutkan: Ia menginginkan buah Leci segar dari Lingnan (sekarang Guangdong), sejauh ribuan mil dari Chang'an, untuk dinikmati oleh selirnya, Yang Guifei.
Kaisar menetapkan tenggat waktu yang sangat ketat: Leci harus tiba dalam waktu tujuh hari. Semua pejabat terkejut, karena rute yang panjang dan sulit, serta sifat mudah busuk dari buah Leci, membuat tugas ini tampak mustahil. Namun, karena tidak ada yang berani menolak perintah kaisar secara langsung, para pejabat mulai mencari kambing hitam untuk bertanggung jawab atas tugas yang hampir pasti gagal ini.
Pada suatu pertemuan kementerian, kepala biro secara tiba-tiba menunjuk Li Shande untuk bertanggung jawab atas pengiriman Leci tersebut. Li Shande terkejut dan menolak, menyadari bahwa ia tidak memiliki sumber daya, pengalaman, atau otoritas untuk menjalankan tugas ini. Namun, kepala biro mengancam dengan hukuman berat dan janji-janji kosong tentang promosi jika ia berhasil. Terjebak dan tanpa pilihan lain, Li Shande terpaksa menerima tugas tersebut.
ACT 2 (Conflict)
Li Shande memulai perjalanannya ke Lingnan, ditemani oleh seorang pengawal yang berpengalaman. Selama perjalanan, ia menghadapi berbagai kesulitan. Pertama, ia harus mencari tahu cara terbaik untuk mengawetkan Leci agar tidak busuk selama perjalanan. Ia berkonsultasi dengan berbagai ahli buah, petani, dan pedagang, namun tidak ada solusi yang benar-benar meyakinkan. Beberapa menyarankan menggunakan es, yang sangat mahal dan langka di Lingnan. Yang lain menyarankan menggunakan madu atau bahan pengawet lainnya, tetapi ia khawatir rasa Leci akan berubah.
Kedua, ia harus mengatasi medan yang sulit dan berbahaya. Rute ke Chang'an melewati pegunungan terjal, sungai deras, dan hutan lebat. Ia harus menyewa kereta kuda, perahu, dan kuli untuk membawa Leci melalui berbagai rintangan. Ia juga harus menghadapi bandit dan hewan liar yang mengancam keselamatan dan muatannya.
Ketiga, ia menghadapi korupsi dan ketidakpedulian dari para pejabat lokal. Banyak pejabat daerah memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan pribadi. Mereka menuntut suap untuk mempermudah perjalanannya, memperlambat proses administrasi, dan mencuri sebagian dari Leci. Li Shande harus menggunakan semua akalnya dan keberaniannya untuk mengatasi rintangan-rintangan ini.
Keempat, ia berpacu dengan waktu. Tenggat waktu tujuh hari terus menghantuinya. Ia harus memastikan bahwa Leci tiba di Chang'an tepat waktu, jika tidak, ia akan menghadapi hukuman berat, bahkan kematian. Ia mendorong dirinya dan para pengikutnya untuk bekerja tanpa henti, tanpa mempedulikan rasa lelah dan bahaya.
ACT 3 (Climax)
Setelah berbagai kesulitan, Li Shande akhirnya tiba di Chang'an dengan sisa Leci yang masih segar. Ia disambut oleh kepala biro dan para pejabat lainnya, yang skeptis dan tidak percaya bahwa ia telah berhasil. Ia menyerahkan Leci kepada kaisar, yang terkejut dan senang dengan hadiah tersebut. Yang Guifei sangat menyukai Leci, dan memuji Li Shande atas keberanian dan kemampuannya.
Namun, kebahagiaan Li Shande tidak berlangsung lama. Ia mengetahui bahwa banyak orang menderita dan mati selama perjalanan pengiriman Leci. Para petani Leci dieksploitasi, para kuli dipaksa bekerja keras, dan banyak nyawa hilang karena kecelakaan dan penyakit. Ia merasa bersalah dan menyesal telah menerima tugas tersebut, menyadari bahwa keberhasilannya dibangun di atas penderitaan orang lain.
Ia juga menyadari bahwa kaisar hanya peduli dengan kesenangan pribadinya, tanpa mempedulikan kesejahteraan rakyatnya. Ia merasa muak dengan korupsi dan ketidakadilan yang merajalela di istana dan di seluruh negeri. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk mengubah situasi ini.
ACT 4 (Resolution)
Li Shande menolak semua penghargaan dan promosi yang ditawarkan oleh kaisar. Ia menggunakan pengalamannya dan pengetahuannya tentang pengiriman Leci untuk mengajukan petisi kepada kaisar agar menghentikan pengiriman Leci tahunan. Ia berargumen bahwa biaya dan penderitaan yang disebabkan oleh pengiriman Leci tidak sebanding dengan kesenangan yang dinikmati oleh kaisar dan selirnya.
Awalnya, kaisar menolak permintaannya, tetapi Li Shande tidak menyerah. Ia terus mengajukan petisi dan menyebarkan kesadaran tentang dampak negatif dari pengiriman Leci. Akhirnya, kaisar tergerak oleh argumennya dan memutuskan untuk menghentikan pengiriman Leci tahunan.
Li Shande menjadi pahlawan rakyat, dipuji karena keberanian dan kepeduliannya. Ia mengundurkan diri dari jabatannya dan kembali ke kampung halamannya, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya membantu petani dan mempromosikan keadilan. Kisah Li Shande menjadi legenda, mengingatkan orang-orang tentang pentingnya keberanian, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.