Desire: A Temptations Story - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

Desire: A Temptations Story

ACT 1 (Setup)

Di Detroit, Michigan, sekitar tahun 1958, Otis Williams dan Melvin Franklin bernyanyi bersama dalam sebuah grup bernama The Primes. Mereka bercita-cita tinggi untuk meraih ketenaran, namun terhalang oleh kurangnya kesempatan dan persaingan ketat. Saat The Primes gagal mendapatkan kesuksesan, Otis memutuskan untuk membentuk grup baru dengan anggota baru. Dia merekrut Elbridge "Al" Bryant dari grup lain yang bernama The Distants, kemudian Eddie Kendricks dan Paul Williams, keduanya juga berasal dari The Distants dan memiliki bakat vokal yang luar biasa. Awalnya, mereka bernama The Elgins.

Keempatnya berlatih tanpa henti, menyempurnakan harmoni dan koreografi mereka. Otis menjadi pemimpin de facto grup ini, mengarahkan ambisi mereka dan mengawasi aspek bisnis. Eddie dan Paul dengan cepat menjadi daya tarik utama, dengan vokal falsetto dan tenor mereka yang khas. Al, meskipun berbakat, memiliki temperamen yang sulit dikendalikan dan seringkali tidak dapat diandalkan.

Setelah beberapa waktu, mereka menarik perhatian seorang produser ambisius bernama Berry Gordy yang baru saja mendirikan label rekaman Motown Records. Gordy melihat potensi besar dalam grup ini dan menawarkan kontrak rekaman kepada mereka. Gordy menyarankan mereka untuk mengubah nama mereka. Setelah berbagai usulan, mereka akhirnya memilih nama The Temptations, melambangkan aspirasi mereka untuk meraih kesuksesan.

ACT 2 (Conflict)

The Temptations segera merasakan kesuksesan dengan lagu-lagu hits seperti "The Way You Do The Things You Do" dan "My Girl." Lagu-lagu ini melambungkan mereka ke puncak tangga lagu dan menjadikan mereka sensasi nasional. Koreografi khas mereka, pakaian yang rapi, dan harmoni vokal yang memukau memikat penonton di seluruh Amerika.

Namun, ketegangan mulai muncul di antara para anggota. Eddie Kendricks dan David Ruffin (yang menggantikan Al Bryant setelah Al dipecat karena perilaku kasarnya dan ketidakkonsistenannya), bersaing untuk menjadi penyanyi utama, memicu konflik internal. David, dengan karisma panggungnya yang luar biasa dan suara yang unik, dengan cepat menjadi pusat perhatian, membuat Eddie merasa terpinggirkan.

Paul Williams, yang juga memiliki masalah pribadi dengan depresi dan kecanduan alkohol, semakin menjauh dari grup. Kesehatan Paul mulai memburuk, dan penampilannya menjadi tidak konsisten. Otis berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan grup tetap utuh, tetapi tekanannya sangat besar. Berry Gordy, sementara itu, terus menuntut kesempurnaan dan kesuksesan, menambah tekanan pada para anggota.

David Ruffin, setelah merasakan ketenaran yang besar, mulai mengembangkan ego yang besar pula. Dia seringkali datang terlambat ke pertunjukan, menggunakan narkoba, dan menuntut lebih banyak perhatian dan kontrol. Perilakunya menjadi semakin tidak terkendali, mengganggu kinerja grup dan merusak hubungan mereka. Akhirnya, Otis dan anggota Temptations lainnya memutuskan untuk memecat David Ruffin.

ACT 3 (Climax)

Pemecatan David Ruffin menandai titik balik dalam sejarah The Temptations. Meskipun mereka mencoba untuk melanjutkan dengan anggota baru, mereka tidak pernah mampu sepenuhnya menggantikan daya tarik dan bakat David. Gordon Edwards, yang direkrut sebagai pengganti David, hanya bertahan sebentar. Grup ini mengalami serangkaian perubahan personil, dengan anggota datang dan pergi karena berbagai alasan, termasuk masalah pribadi, perselisihan internal, dan tekanan industri musik.

Paul Williams, yang kesehatannya terus memburuk, akhirnya mengundurkan diri dari grup. Tragisnya, dia meninggal dunia beberapa tahun kemudian akibat bunuh diri, meninggalkan duka mendalam bagi para mantan rekannya dan penggemar The Temptations. Eddie Kendricks juga meninggalkan grup untuk mengejar karir solo, meskipun ia tidak pernah mencapai tingkat kesuksesan yang sama seperti saat ia bersama The Temptations.

Otis Williams tetap menjadi satu-satunya anggota asli yang terus memimpin The Temptations. Meskipun menghadapi banyak tantangan dan tragedi, ia bertekad untuk mempertahankan warisan grup ini. Di tengah perubahan zaman dan selera musik yang terus berkembang, Otis berjuang untuk menjaga relevansi The Temptations.

ACT 4 (Resolution)

Meskipun menghadapi banyak cobaan, The Temptations terus melakukan tur dan merekam musik baru. Otis Williams, dengan keteguhan hatinya dan dedikasinya yang tak tergoyahkan, berhasil menjaga grup ini tetap hidup selama beberapa dekade.

Pada akhirnya, The Temptations diakui sebagai salah satu grup vokal paling berpengaruh dan ikonik dalam sejarah musik. Mereka dimasukkan ke dalam Rock and Roll Hall of Fame, dan musik mereka terus dinikmati oleh generasi demi generasi. Kisah The Temptations adalah kisah tentang bakat, ambisi, kesuksesan, dan tragedi. Ini adalah kisah tentang bagaimana ketegangan internal dan tekanan eksternal dapat merusak bahkan hubungan yang paling kuat, tetapi juga tentang bagaimana dedikasi dan ketekunan dapat mengatasi rintangan dan memastikan warisan abadi. Kisah The Temptations adalah pengingat bahwa kesuksesan seringkali memiliki harga yang mahal, dan bahwa penting untuk tetap setia pada diri sendiri dan nilai-nilai Anda, bahkan di tengah ketenaran dan keberuntungan.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya