Can Elon Musk Rule the World? - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

Can Elon Musk Rule the World?

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan montase kilas balik masa kecil Elon Musk di Afrika Selatan, memperlihatkan dirinya sebagai anak yang cerdas dan penyendiri, gemar membaca fiksi ilmiah dan memiliki ketertarikan mendalam pada teknologi. Adegan beralih ke masa remajanya, dimana ia menjual kode game pertamanya dan menghadapi perundungan di sekolah. Montase ini menggambarkan ambisi awal dan ketidakpeduliannya terhadap norma sosial.

Lalu kita diperkenalkan pada kesuksesan pertamanya dengan Zip2 dan PayPal. Elon menjual Zip2 dengan harga yang lumayan, tapi dia tidak puas. Dia menggunakan uangnya untuk mendirikan X.com, yang kemudian menjadi PayPal. Keberhasilannya di PayPal membawanya pada keuntungan besar ketika eBay mengakuisisi perusahaan tersebut. Alih-alih berpuas diri, Elon berinvestasi besar-besaran di dua proyek ambisius: SpaceX dan Tesla.

Film kemudian memfokuskan pada awal pendirian SpaceX dan Tesla, menyoroti tantangan dan keraguan yang dihadapi Elon. SpaceX mengalami kegagalan roket yang nyaris membuatnya bangkrut, sementara Tesla berjuang dengan masalah produksi dan keuangan. Para ahli dan media meremehkan kemampuannya, menganggapnya gila dan tidak realistis. Kita melihat Elon bekerja keras, mengatasi kegagalan demi kegagalan, dan memotivasi timnya untuk terus maju. Di sisi lain, digambarkan juga gaya kepemimpinannya yang keras dan tuntutan yang tinggi, yang seringkali membuat stres para karyawannya.

Adegan berlanjut memperlihatkan kehidupan pribadi Elon yang kompleks, perceraiannya, dan hubungannya yang rumit dengan anak-anaknya. Terungkap bahwa obsesinya dengan pekerjaan seringkali mengorbankan kehidupan pribadinya.

ACT 2 (Conflict)

Konflik utama mulai muncul ketika Elon semakin terlibat dalam isu-isu global. Ia menggunakan platform media sosialnya untuk menyuarakan pendapat tentang politik, ekonomi, dan perubahan iklim. Tweet-tweetnya seringkali kontroversial dan memicu perdebatan sengit. Beberapa orang memuji keberaniannya, sementara yang lain mengkritiknya karena dianggap sombong dan tidak bertanggung jawab.

Elon mulai merasa bahwa pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar menghalangi kemajuan teknologi dan menghambat usahanya untuk menyelesaikan masalah-masalah global. Ia semakin frustrasi dengan birokrasi dan regulasi yang rumit. Hal ini mendorongnya untuk mencari cara untuk memiliki lebih banyak kendali dan pengaruh.

Konflik internal juga terjadi di dalam perusahaan-perusahaannya. Para karyawan mulai mempertanyakan visi Elon dan merasa tertekan oleh tuntutannya yang ekstrem. Beberapa eksekutif kunci mengundurkan diri, menyebabkan kekacauan dan ketidakpastian. Elon menghadapi kritik atas gaya kepemimpinannya yang otokratis dan kurangnya empati.

Selain itu, muncul tantangan eksternal dari para pesaing. Perusahaan-perusahaan lain mulai mengembangkan teknologi serupa dengan SpaceX dan Tesla, mengancam pangsa pasar Elon. Pemerintah juga mulai mengawasi tindakannya lebih ketat, khawatir tentang pengaruhnya yang semakin besar.

ACT 3 (Climax)

Puncak konflik terjadi ketika Elon meluncurkan proyek kontroversial yang bertujuan untuk membangun koloni manusia di Mars. Proyek ini dianggap terlalu ambisius dan berisiko oleh banyak orang. Para kritikus berpendapat bahwa sumber daya yang digunakan untuk proyek ini seharusnya dialokasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah di Bumi.

Namun, Elon yakin bahwa kolonialisasi Mars adalah kunci untuk kelangsungan hidup umat manusia. Ia percaya bahwa Bumi akan menjadi tidak layak huni di masa depan karena perubahan iklim atau bencana alam lainnya. Koloni di Mars akan menjadi tempat perlindungan dan memungkinkan umat manusia untuk terus berkembang.

Peluncuran roket pertama menuju Mars mengalami kegagalan yang spektakuler, menewaskan beberapa astronot dan menghancurkan harapan banyak orang. Elon menghadapi tekanan yang luar biasa untuk menghentikan proyek tersebut. Namun, ia menolak untuk menyerah. Ia menggunakan kegagalan itu sebagai pelajaran dan bekerja lebih keras untuk meningkatkan teknologi roketnya.

Pada akhirnya, Elon berhasil meluncurkan roket yang berhasil mencapai Mars dan mendirikan koloni pertama manusia di planet merah itu. Hal ini dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa dan membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil jika kita memiliki tekad yang kuat.

ACT 4 (Resolution)

Keberhasilan kolonialisasi Mars mengubah persepsi publik tentang Elon Musk. Ia tidak lagi hanya dianggap sebagai pengusaha teknologi yang eksentrik, tetapi juga sebagai visioner yang berani dan pemimpin yang inspiratif. Ia menjadi pahlawan bagi banyak orang, yang percaya bahwa ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah global dan membawa umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.

Meskipun ia mencapai kesuksesan besar, Elon tetap rendah hati dan terus bekerja keras untuk mewujudkan visinya. Ia menyadari bahwa kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya membawa tanggung jawab yang besar. Ia berjanji untuk menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan dan untuk melayani kepentingan umat manusia.

Film berakhir dengan Elon melihat ke langit, merenungkan pencapaiannya dan tantangan yang masih ada di depan. Ia menyadari bahwa perjalanan untuk membangun masa depan yang lebih baik masih panjang, tetapi ia siap untuk menghadapinya dengan keberanian dan keyakinan. Pertanyaan "Can Elon Musk Rule the World?" dibiarkan terbuka untuk interpretasi, mengisyaratkan bahwa pengaruh dan potensinya tidak memiliki batasan yang jelas. Film ditutup dengan adegan para kolonialis di Mars menatap Bumi, menyadari bahwa mereka adalah harapan terakhir umat manusia.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya