俺ではない炎上 - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 5 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Ren, seorang pegawai kantoran biasa berusia 20-an akhir, menjalani kehidupan yang monoton di Tokyo. Ia bekerja di perusahaan kecil, sering lembur, dan merasa terasing dari kehidupan sosial. Ren memiliki satu pelarian: akun Twitter anonim bernama “Key”. Di sana, ia melampiaskan frustrasinya tentang pekerjaan, kehidupan, dan masyarakat secara umum. Ia tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun secara langsung, tetapi tweet-tweetnya seringkali bernada sinis dan kritis terhadap tren-tren terkini. Ren menyembunyikan identitas "Key" dengan sangat hati-hati, bahkan dari teman-teman dan keluarganya. Suatu malam, setelah lembur yang sangat panjang, Ren men-tweet tentang seorang influencer yang dianggapnya palsu dan hanya mencari perhatian. Tweet tersebut berisi sedikit sarkasme dan nada merendahkan, tetapi Ren merasa itu tidak terlalu berlebihan.

Keesokan paginya, Ren terkejut menemukan bahwa tweet-nya menjadi viral. Banyak orang setuju dengan pendapatnya tentang sang influencer, tetapi ada juga yang menganggapnya kejam dan tidak pantas. Ren awalnya merasa senang karena tweet-nya mendapat banyak perhatian, tetapi kemudian mulai khawatir ketika beberapa orang mulai mencoba mencari tahu siapa "Key" sebenarnya. Di kantor, suasana terasa biasa saja. Ren berusaha bersikap senormal mungkin, menyembunyikan kegugupan yang melandanya. Ia melihat rekan kerjanya bermain ponsel, mungkin membaca tentang drama online tersebut, tanpa menyadari bahwa orang di balik tweet yang kontroversial itu duduk tepat di sebelah mereka. Ren merasa seperti hidup dalam mimpi buruk yang aneh.

ACT 2 (Conflict)

Situasi semakin memburuk. Identitas "Key" mulai tersebar di internet. Beberapa orang berhasil menemukan foto-foto lama Ren dari media sosial yang kurang dijaga. Mereka menggabungkan foto-foto tersebut dengan tweet-tweet "Key" dan menyebarkannya di berbagai platform. Dunia online Ren dan dunia nyatanya mulai bertabrakan. Ia menerima pesan-pesan kebencian dan ancaman dari orang-orang yang marah atas tweet-nya. Perusahaan tempat Ren bekerja juga mulai menerima keluhan tentang karyawan mereka yang diduga sebagai pelaku perundungan online.

Ren merasa tertekan dan panik. Ia mencoba menghapus akun Twitter-nya, tetapi sudah terlambat. Tweet-tweetnya sudah di-screenshot dan disebarkan di mana-mana. Reputasinya tercemar. Ia mulai menghindari keluar rumah karena takut bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya sebagai "Key". Rekan-rekan kerjanya mulai menjauhinya. Manajernya memanggilnya ke ruangannya dan mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan tindakan disipliner. Ren berusaha menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyakiti siapa pun, tetapi manajernya tidak tertarik dengan penjelasannya. Ia merasa sendirian dan terisolasi.

Ren mencari bantuan dari temannya, Yumi. Yumi adalah seorang jurnalis lepas yang paham tentang media sosial dan dunia online. Ren menceritakan semuanya kepada Yumi, mengakui bahwa ia adalah "Key". Yumi terkejut, tetapi ia bersedia membantu. Yumi menasehati Ren untuk meminta maaf secara terbuka dan menjelaskan konteks di balik tweet-tweetnya. Ia juga menyarankan Ren untuk mencari bantuan hukum jika situasinya semakin memburuk. Ren mengikuti saran Yumi dan membuat video permintaan maaf. Ia mengakui kesalahannya dan berjanji untuk lebih berhati-hati dengan apa yang ia posting di media sosial.

ACT 3 (Climax)

Video permintaan maaf Ren justru memperburuk keadaan. Banyak orang menuduhnya munafik dan hanya mencari simpati. Beberapa orang bahkan menuduhnya sebagai bagian dari kampanye pemasaran yang disengaja. Kebencian terhadap Ren semakin meningkat. Ia menerima lebih banyak ancaman dan pesan-pesan kebencian. Rumahnya bahkan sempat didatangi oleh orang-orang yang marah. Ren merasa putus asa dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Yumi berusaha menghibur Ren dan meyakinkannya untuk tidak menyerah. Ia mengatakan bahwa masih ada orang yang mendukungnya dan bahwa situasinya tidak akan selamanya seperti ini. Yumi juga berusaha mencari tahu siapa yang pertama kali membocorkan identitas "Key" ke publik. Ia menemukan bukti bahwa salah satu mantan rekan kerja Ren, yang merasa sakit hati karena Ren pernah mengkritiknya di masa lalu, adalah orang yang bertanggung jawab atas kebocoran tersebut. Yumi membeberkan bukti tersebut ke publik, mengungkapkan motif di balik kebocoran identitas Ren.

Publik terkejut dengan pengungkapan tersebut. Banyak orang yang sebelumnya mencemooh Ren mulai merasa kasihan padanya. Mereka menyadari bahwa Ren adalah korban dari perundungan online dan balas dendam pribadi. Opini publik mulai berbalik arah. Orang-orang mulai meminta maaf kepada Ren atas perlakuan mereka. Bahkan, sang influencer yang sebelumnya menjadi target tweet Ren, secara terbuka memaafkan Ren dan mendukungnya.

ACT 4 (Resolution)

Situasi perlahan-lahan mereda. Ancaman dan pesan-pesan kebencian mulai berkurang. Ren bisa keluar rumah dengan lebih percaya diri. Perusahaan tempat Ren bekerja memutuskan untuk tidak mengambil tindakan disipliner terhadapnya. Mereka bahkan memberikan Ren kesempatan untuk berbicara tentang pengalamannya dengan perundungan online kepada karyawan lain. Ren memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut dan berbagi ceritanya. Ia berharap pengalamannya bisa membantu orang lain untuk lebih berhati-hati dengan apa yang mereka posting di media sosial dan untuk lebih empati terhadap orang lain.

Ren belajar banyak dari pengalamannya. Ia menyadari bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar dan bahwa ia harus bertanggung jawab atas apa yang ia katakan. Ia juga belajar tentang pentingnya menjaga privasi dan keamanan online. Ren memutuskan untuk tidak lagi menggunakan akun Twitter anonim. Ia ingin membangun reputasi yang positif dan otentik di dunia online. Ren dan Yumi menjadi lebih dekat setelah kejadian tersebut. Mereka berdua belajar tentang pentingnya persahabatan dan dukungan dalam menghadapi kesulitan. Ren akhirnya bisa melanjutkan hidupnya, tetapi ia tidak akan pernah melupakan pengalaman yang telah mengubah hidupnya itu. Ia menjadi lebih bijaksana, lebih berhati-hati, dan lebih empati terhadap orang lain. Api kemarahan online yang membakar dirinya, akhirnya padam, meninggalkan bekas luka yang akan selalu mengingatkannya tentang bahaya dunia maya.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya