A Ladder - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

A Ladder

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan pemandangan kota Jakarta yang padat dan sibuk. Kita diperkenalkan dengan Arya, seorang pemuda berusia 20-an yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah gedung perkantoran mewah. Arya tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana bersama ibunya yang sakit-sakitan. Ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan ibunya.

Arya memiliki mimpi untuk menjadi seorang fotografer profesional. Ia sering membawa kamera saku ke tempat kerja dan mencuri-curi waktu untuk mengambil foto-foto pemandangan kota dan orang-orang di sekitarnya. Ia menyembunyikan mimpinya dari rekan-rekannya karena takut diejek.

Suatu hari, saat membersihkan kantor di lantai atas, Arya menemukan sebuah kartu nama fotografer terkenal bernama Bapak Handoko. Kartu nama itu terjatuh dari meja seorang eksekutif perusahaan. Arya merasa terinspirasi dan bertekad untuk menghubungi Bapak Handoko.

Arya kemudian mencari tahu tentang Bapak Handoko melalui internet. Ia menemukan bahwa Bapak Handoko adalah seorang fotografer sukses yang memiliki studio sendiri dan sering mengadakan pameran foto. Arya memberanikan diri untuk mengirimkan email kepada Bapak Handoko dengan melampirkan beberapa contoh fotonya.

Beberapa hari kemudian, Arya menerima balasan dari Bapak Handoko. Bapak Handoko memuji foto-foto Arya dan mengundangnya untuk bertemu di studionya. Arya sangat senang dan gugup pada saat yang bersamaan. Ia merasa mimpinya mulai menjadi kenyataan.

ACT 2 (Conflict)

Arya datang ke studio Bapak Handoko dengan penuh harapan. Ia menunjukkan portofolio fotonya kepada Bapak Handoko. Bapak Handoko terkesan dengan bakat Arya, tetapi ia mengatakan bahwa Arya masih perlu banyak belajar dan berlatih.

Bapak Handoko menawarkan Arya untuk bekerja sebagai asistennya di studio. Arya sangat senang dan menerima tawaran itu tanpa ragu-ragu. Ia berjanji akan bekerja keras dan belajar sebanyak mungkin dari Bapak Handoko.

Awalnya, Arya merasa sangat senang bekerja di studio Bapak Handoko. Ia belajar banyak tentang teknik fotografi, komposisi, dan pencahayaan. Ia juga bertemu dengan banyak orang-orang kreatif dan inspiratif.

Namun, lama kelamaan, Arya mulai merasa kecewa. Ia menyadari bahwa Bapak Handoko adalah orang yang perfeksionis dan keras kepala. Bapak Handoko sering memarahi Arya karena kesalahan-kesalahan kecil. Selain itu, Arya juga merasa bahwa ia hanya dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah. Ia sering disuruh melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berhubungan dengan fotografi, seperti membersihkan studio dan mengantarkan makanan.

Di sisi lain, ibunya semakin sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang lebih besar. Arya merasa tertekan karena ia tidak bisa membantu ibunya dengan maksimal. Ia juga merasa bersalah karena telah meninggalkan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, padahal pekerjaan itu memberikan penghasilan yang lebih pasti.

Arya mulai mempertimbangkan untuk berhenti bekerja di studio Bapak Handoko dan kembali menjadi petugas kebersihan. Namun, ia takut mengecewakan Bapak Handoko dan kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang fotografer profesional.

ACT 3 (Climax)

Suatu hari, Bapak Handoko mendapat tawaran untuk memotret sebuah acara besar yang dihadiri oleh banyak tokoh penting. Bapak Handoko menugaskan Arya untuk mempersiapkan peralatan fotografi dan membantunya selama acara.

Saat acara berlangsung, terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan lampu studio mati. Bapak Handoko panik dan menyalahkan Arya. Arya merasa sangat sedih dan marah. Ia merasa bahwa Bapak Handoko tidak menghargainya sama sekali.

Arya memutuskan untuk berhenti bekerja di studio Bapak Handoko. Ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Bapak Handoko dan mengungkapkan kekecewaannya. Bapak Handoko terkejut mendengar perkataan Arya. Ia menyadari bahwa ia telah bersikap tidak adil kepada Arya.

Bapak Handoko meminta maaf kepada Arya dan mengakui bahwa ia telah memanfaatkan bakat Arya. Ia menawarkan Arya untuk bekerja sama dalam proyek-proyek fotografi yang lebih besar. Arya mempertimbangkan tawaran itu, tetapi ia memutuskan untuk menolaknya. Ia ingin mengejar mimpinya dengan caranya sendiri.

Arya kembali bekerja sebagai petugas kebersihan. Ia tetap mengambil foto-foto di waktu luangnya dan mengunggahnya ke media sosial. Foto-foto Arya mulai mendapat perhatian dari banyak orang. Ia mendapat tawaran untuk memotret acara-acara kecil dan pameran foto.

ACT 4 (Resolution)

Arya berhasil membangun karirnya sebagai seorang fotografer profesional secara mandiri. Ia tidak lagi bergantung pada Bapak Handoko atau orang lain. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras dan ketekunan, mimpinya bisa menjadi kenyataan.

Arya juga berhasil membantu ibunya mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Ia merasa bahagia dan bangga dengan apa yang telah dicapainya.

Film berakhir dengan pemandangan Arya yang sedang memotret pemandangan kota Jakarta dari atas gedung perkantoran. Ia tersenyum dan merasa bersyukur atas semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidaklah mudah, tetapi dengan semangat dan keyakinan, semua rintangan bisa diatasi. Tangga (A Ladder) yang ia daki adalah tangga kepercayaaan diri dan kemandirian.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya