6 Jilake - Cerita Lengkap
6 Jilake
ACT 1 (Setup)
Film dibuka dengan adegan di sebuah kantor konsultan keuangan yang kumuh di Jakarta. Enam orang karyawan tampak lesu dan putus asa: Dino, seorang akuntan idealis yang terlilit hutang; Indah, seorang resepsionis yang bercita-cita menjadi make-up artist; Guntur, seorang marketing yang ambisius namun kurang beruntung; Ayu, seorang analis data yang introvert dan cerdas; Surya, seorang office boy yang selalu ceria meskipun hidupnya sulit; dan Lastri, seorang cleaning service yang sudah bekerja puluhan tahun di sana. Mereka semua terkejut ketika menerima surat pemberitahuan PHK massal dari Pak Bambang, sang pemilik perusahaan yang korup dan kejam.
Pak Bambang mengumumkan bahwa perusahaan bangkrut karena kesalahan mereka sendiri, dan mereka hanya akan menerima pesangon seadanya yang bahkan tidak cukup untuk membayar hutang atau mencari pekerjaan baru. Dino, yang paling vokal, mencoba bernegosiasi, namun Pak Bambang menolak mentah-mentah. Dalam kemarahan dan keputusasaan, Dino, Indah, Guntur, Ayu, Surya, dan Lastri secara spontan merencanakan balas dendam.
Rencana awal mereka adalah mencuri data rahasia perusahaan yang bisa membuktikan korupsi Pak Bambang. Ayu berhasil membobol sistem keamanan kantor dan menemukan file-file penting. Mereka menyusun strategi untuk menyebarkan data tersebut ke media dan melaporkannya ke polisi.
ACT 2 (Conflict)
Mereka menyadari bahwa menyebarkan data saja tidak cukup. Pak Bambang terlalu kuat dan punya koneksi luas. Guntur mengusulkan ide yang lebih radikal: menculik Pak Bambang dan memerasnya agar mengembalikan uang pesangon mereka dan mengakui kejahatannya. Awalnya ide ini ditentang, terutama oleh Dino, namun akhirnya mereka sepakat karena merasa tidak punya pilihan lain.
Mereka menyusun rencana penculikan yang detail. Indah bertugas mengawasi Pak Bambang, Surya mengurus transportasi, Guntur menyiapkan tempat persembunyian, Ayu mengamankan teknologi, Dino menjadi otak di balik rencana, dan Lastri bertugas sebagai pengalih perhatian.
Penculikan berjalan sesuai rencana, meskipun ada beberapa kendala kecil. Mereka membawa Pak Bambang ke sebuah gudang kosong di pinggiran kota. Di sana, mereka mencoba menginterogasi Pak Bambang dan memaksanya untuk mengaku. Namun, Pak Bambang tetap keras kepala dan bahkan mengejek mereka.
Situasi semakin rumit ketika mereka mengetahui bahwa Pak Bambang punya bodyguard yang sangat setia dan berbahaya. Bodyguard tersebut mulai mencari keberadaan Pak Bambang dan melacak jejak mereka. Selain itu, hubungan internal di antara enam jilake mulai retak. Dino merasa bersalah karena telah membawa mereka ke dalam masalah ini, sementara Guntur semakin ambisius dan ingin menguasai situasi.
Ayu menemukan bukti baru bahwa Pak Bambang tidak hanya korupsi, tetapi juga terlibat dalam bisnis narkoba. Mereka menyadari bahwa mereka berhadapan dengan musuh yang sangat berbahaya.
ACT 3 (Climax)
Bodyguard Pak Bambang akhirnya menemukan tempat persembunyian mereka. Terjadi pertempuran sengit antara enam jilake dan bodyguard. Surya dan Lastri terluka, sementara Guntur semakin brutal. Dino mencoba menenangkan situasi dan mengingatkan mereka bahwa tujuan mereka bukan untuk membunuh, tetapi untuk mendapatkan keadilan.
Dalam kekacauan tersebut, Pak Bambang berhasil melarikan diri. Keenam jilake mengejarnya, dan terjadilah kejar-kejaran mobil yang mendebarkan. Akhirnya, mereka berhasil menangkap Pak Bambang kembali.
Dino menghadapi Pak Bambang dan memberikan ultimatum terakhir. Ia memintanya untuk mengaku di depan kamera dan mengembalikan uang pesangon mereka. Pak Bambang menolak dan mencoba menyerang Dino. Dalam pembelaan diri, Dino secara tidak sengaja melukai Pak Bambang.
Mereka panik dan bingung harus berbuat apa. Guntur menyarankan untuk membunuh Pak Bambang dan menghilangkan jejak. Namun, Dino menolak mentah-mentah. Ia bersikeras bahwa mereka harus menyerahkan diri ke polisi.
ACT 4 (Resolution)
Akhirnya, mereka memutuskan untuk merekam pengakuan Pak Bambang dan menyerahkannya ke polisi. Mereka juga menyerahkan diri dan mengakui perbuatan mereka.
Meskipun mereka melakukan tindak kriminal, media dan masyarakat memberikan simpati kepada mereka. Banyak orang merasa bahwa mereka adalah korban dari sistem yang korup dan tidak adil.
Polisi melakukan investigasi mendalam terhadap kasus Pak Bambang dan menemukan bukti-bukti yang memberatkannya. Pak Bambang akhirnya ditangkap dan diadili atas berbagai tindak pidana korupsi dan narkoba.
Keenam jilake dijatuhi hukuman yang ringan karena dianggap melakukan tindak kriminal atas dasar pembelaan diri dan keadaan yang memaksa. Setelah keluar dari penjara, mereka disambut sebagai pahlawan.
Mereka menggunakan uang pesangon yang mereka dapatkan kembali untuk memulai bisnis baru bersama-sama. Dino menjadi akuntan yang jujur, Indah membuka salon make-up, Guntur menjadi marketing yang sukses, Ayu menjadi ahli keamanan siber, Surya membuka warung makan, dan Lastri menikmati masa pensiunnya.
Film berakhir dengan adegan enam jilake tertawa bahagia dan menikmati hidup baru mereka. Mereka telah belajar bahwa keadilan bisa ditegakkan, bahkan oleh orang-orang biasa yang merasa tidak berdaya. Mereka telah menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi dan ketidakadilan.
Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.