식스데이즈 - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Film "Six Days" dibuka dengan menampilkan dinamika di Kedutaan Besar Iran di London pada tanggal 30 April 1980. Kita diperkenalkan pada sejumlah staf kedutaan, termasuk Abbas Lavasani, pemimpin kelompok separatis bersenjata. Seorang jurnalis bernama Kate Adie sedang meliput sebuah demonstrasi di luar kedutaan terkait sengketa wilayah Khuzestan. Sementara itu, Rusty Firmin, seorang sersan SAS, sedang bersiap untuk latihan rutin.

Sekelompok enam pria bersenjata, anggota Front Demokratik Revolusioner untuk Pembebasan Arabistan (DRFLA), menyerbu kedutaan. Mereka menyandera 26 orang di dalam, termasuk staf kedutaan dan pengunjung. Kate Adie, yang berada di lokasi, dengan cepat menyadari signifikansi kejadian tersebut dan berusaha keras untuk melaporkan peristiwa ini.

Polisi segera mengepung kedutaan, dipimpin oleh Inspektur Kepala Max Vernon. Mereka mendirikan pos komando dan memulai negosiasi dengan para teroris. Pemimpin DRFLA, Lavasani, menuntut pembebasan 91 tahanan yang dipenjara di Iran dan aman perjalanan keluar Inggris. Dia mengancam akan membunuh para sandera jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Rusty Firmin dan tim SAS-nya dipanggil ke markas mereka untuk bersiap-siap jika negosiasi gagal. Mereka mulai berlatih dan merencanakan berbagai kemungkinan serangan ke kedutaan. Pemerintah Inggris, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher, menghadapi dilema yang sulit: bernegosiasi dengan teroris atau mengambil tindakan tegas.

ACT 2 (Conflict)

Hari-hari berlalu tanpa kemajuan signifikan dalam negosiasi. Para teroris semakin frustrasi dan menuntut agar duta besar Arab negara-negara Arab untuk Inggris turun tangan. Mereka memberikan tenggat waktu yang semakin ketat dan mengancam akan membunuh sandera jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Kate Adie terus meliput kejadian tersebut, memberikan laporan langsung yang menarik perhatian dunia. Dia bekerja keras untuk mendapatkan informasi eksklusif dan menyeimbangkan antara kebutuhan untuk melaporkan berita dan menjaga keselamatan para sandera.

Hubungan antara para sandera di dalam kedutaan sangat tegang. Beberapa sandera mencoba untuk tetap tenang dan bekerja sama dengan para teroris, sementara yang lain menjadi semakin putus asa dan memberontak. Para teroris juga mengalami perpecahan internal, dengan beberapa anggota mempertanyakan taktik Lavasani yang semakin brutal.

Situasi mencapai titik kritis ketika para teroris membunuh seorang sandera, Abbas Ali Afrus, seorang kepala humas yang mencoba melindungi sandera lain. Pembunuhan ini memicu kemarahan publik dan meningkatkan tekanan pada pemerintah Inggris untuk mengambil tindakan.

ACT 3 (Climax)

Setelah pembunuhan Afrus, Perdana Menteri Thatcher memberikan lampu hijau kepada SAS untuk mempersiapkan serangan. Max Vernon, yang awalnya menentang intervensi militer, akhirnya menyadari bahwa negosiasi telah gagal dan bahwa keselamatan para sandera hanya dapat dijamin melalui tindakan kekerasan.

Rusty Firmin dan timnya menyelesaikan rencana serangan mereka. Mereka menggunakan model skala kedutaan untuk berlatih masuk dan mengamankan gedung. Mereka menyadari risiko yang terlibat, tetapi mereka bertekad untuk menyelamatkan para sandera dan mengakhiri pengepungan.

Pada tanggal 5 Mei, setelah enam hari pengepungan, para teroris membunuh seorang sandera lagi dan membuang mayatnya keluar dari jendela. Kejadian ini menjadi pemicu serangan SAS.

Operasi Nimrod dimulai. Tim SAS menyerbu kedutaan dari berbagai titik masuk, menggunakan bahan peledak dan granat kejut untuk melumpuhkan para teroris. Pertempuran sengit terjadi di dalam gedung, dengan para teroris memberikan perlawanan keras.

Rusty Firmin dan timnya bergerak cepat dan efisien, membunuh atau menangkap para teroris satu per satu. Beberapa sandera terbunuh atau terluka dalam baku tembak, tetapi sebagian besar berhasil diselamatkan.

ACT 4 (Resolution)

Setelah pertempuran berdarah, SAS berhasil menguasai kembali kedutaan. Lima dari enam teroris tewas dalam serangan itu, termasuk Lavasani. Satu teroris, Fawzi Nejad, selamat dan ditangkap.

Kate Adie melaporkan keberhasilan serangan SAS, memberikan gambaran rinci tentang keberanian dan profesionalisme pasukan khusus tersebut. Dia juga menyoroti tragedi yang dialami oleh para sandera dan keluarga mereka.

Operasi Nimrod dipuji sebagai kemenangan besar bagi pemerintah Inggris dan SAS. Hal ini menunjukkan kemampuan Inggris untuk mengatasi terorisme dan melindungi warganya.

Rusty Firmin dan timnya menjadi pahlawan nasional. Mereka dihormati atas keberanian dan pengorbanan mereka dalam menyelamatkan para sandera.

Fawzi Nejad diadili dan dihukum penjara seumur hidup. Pengepungan Kedutaan Iran menjadi momen penting dalam sejarah Inggris dan mengubah cara negara itu mendekati terorisme. Film ini berakhir dengan refleksi tentang dampak jangka panjang dari peristiwa tersebut pada semua orang yang terlibat.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya