1938: Cuando el petróleo fue nuestro - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

1938: Cuando el petróleo fue nuestro

ACT 1 (Setup)

Film dimulai dengan pemandangan Bolivia di tahun 1930-an. Negara ini dilanda kemiskinan dan ketidakstabilan politik, meskipun memiliki sumber daya alam yang kaya, terutama minyak. Standar Oil, sebuah perusahaan minyak raksasa Amerika, memegang kendali atas eksplorasi dan eksploitasi minyak di Bolivia. Perusahaan ini memberikan janji kemakmuran, tetapi pada kenyataannya, hanya menguntungkan segelintir elit dan pemegang saham asing. Rakyat Bolivia hidup dalam kemiskinan yang mendalam.

Tokoh sentral diperkenalkan: Germán Busch, seorang perwira militer muda yang idealis dan patriotik. Busch merasa frustrasi dengan korupsi dan ketidakadilan yang merajalela di negaranya. Ia melihat bagaimana Standard Oil mengeksploitasi sumber daya alam Bolivia tanpa memberikan manfaat yang signifikan bagi rakyatnya. Busch bertekad untuk mengubah keadaan.

Busch menjadi semakin populer di kalangan rakyat karena keberanian dan ketegasannya. Ia tidak takut untuk berbicara menentang Standard Oil dan elit penguasa yang berkolaborasi dengan mereka. Popularitas Busch meningkat setelah ia berhasil memimpin kudeta militer yang menggulingkan presiden yang korup dan pro-Standard Oil. Busch menjadi presiden de facto Bolivia.

ACT 2 (Conflict)

Sebagai presiden, Busch mulai menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk merebut kembali kendali atas sumber daya alam Bolivia dari tangan asing. Ia memberlakukan undang-undang baru yang membatasi kekuasaan Standard Oil dan meningkatkan royalti yang harus dibayarkan perusahaan tersebut kepada pemerintah Bolivia. Standard Oil menolak untuk mematuhi undang-undang baru tersebut dan berusaha untuk menekan pemerintah Bolivia melalui berbagai cara, termasuk lobi politik, tekanan ekonomi, dan bahkan sabotase.

Konflik antara Busch dan Standard Oil meningkat. Standard Oil menggunakan pengaruhnya di Washington D.C. untuk menekan pemerintah AS agar memberikan tekanan pada Bolivia. Pemerintah AS, yang khawatir tentang kepentingan bisnis Amerika di Bolivia, mulai mengancam Bolivia dengan sanksi ekonomi. Busch menolak untuk menyerah pada tekanan asing. Ia yakin bahwa ia melakukan hal yang benar untuk negaranya dan rakyatnya.

Busch mencoba untuk mencari dukungan dari negara-negara lain di Amerika Latin. Ia menjalin aliansi dengan negara-negara yang juga menghadapi masalah serupa dengan perusahaan-perusahaan asing. Namun, upaya Busch terhambat oleh intrik politik dan campur tangan dari kekuatan asing.

Standard Oil meningkatkan upaya untuk menggulingkan Busch dari kekuasaan. Perusahaan tersebut mendanai kelompok-kelompok oposisi dan menyebarkan propaganda untuk mendiskreditkan Busch. Busch menghadapi ancaman pembunuhan dan kudeta militer. Ia harus berjuang keras untuk mempertahankan kekuasaannya dan melanjutkan reformasi yang telah ia mulai.

ACT 3 (Climax)

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Standard Oil secara terbuka menantang otoritas Busch. Perusahaan tersebut menghentikan produksi minyak dan mulai memecat pekerja. Hal ini menyebabkan krisis ekonomi dan sosial di Bolivia. Rakyat Bolivia, yang sudah menderita karena kemiskinan, menjadi semakin marah.

Busch memutuskan untuk mengambil tindakan drastis. Ia memerintahkan militer untuk menduduki fasilitas-fasilitas Standard Oil dan mengumumkan nasionalisasi perusahaan tersebut. Tindakan ini mengejutkan dunia dan memicu kemarahan pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan minyak lainnya.

ACT 4 (Resolution)

Nasionalisasi Standard Oil disambut dengan sukacita oleh rakyat Bolivia. Mereka melihat tindakan Busch sebagai kemenangan atas kekuatan asing dan langkah penting menuju kemerdekaan ekonomi. Namun, nasionalisasi juga menimbulkan konsekuensi yang serius. Pemerintah AS memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Bolivia, dan perusahaan-perusahaan minyak lainnya menolak untuk berbisnis dengan negara tersebut.

Bolivia mengalami kesulitan ekonomi yang parah. Busch mencoba untuk mengatasi masalah ini dengan mencari sumber pendanaan alternatif dan mengembangkan industri-industri baru. Namun, upayanya terhambat oleh korupsi dan ketidakstabilan politik.

Pada akhirnya, Busch meninggal dunia dalam keadaan yang misterius. Kematiannya memicu spekulasi tentang pembunuhan dan konspirasi. Tanpa kepemimpinan Busch, Bolivia mengalami kemunduran dan kembali ke masa lalu yang kelam.

Meskipun Busch tidak berhasil mencapai semua tujuannya, ia tetap menjadi pahlawan bagi rakyat Bolivia. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang berani dan idealis yang berjuang untuk kemerdekaan dan keadilan bagi negaranya. Film ini berakhir dengan refleksi tentang dampak nasionalisasi minyak terhadap Bolivia dan perjuangan berkelanjutan negara tersebut untuk mengendalikan sumber daya alamnya sendiri.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya