넌센스 - Cerita Lengkap

Layar Bioskop
⏱️ 4 menit membaca

ACT 1 (Setup)

Film dibuka dengan memperkenalkan Ji-woo, seorang penulis naskah komedi yang sedang mengalami writer's block parah. Ia hidup dalam apartemen kecil yang berantakan, dikelilingi oleh tumpukan kertas berisi ide-ide yang belum selesai dan minuman kaleng kosong. Ia frustrasi karena tekanan dari produser filmnya untuk menghasilkan naskah yang lucu dan orisinal, padahal semua idenya terasa klise dan basi. Ji-woo terlihat sering menghindari panggilan telepon dari produser tersebut.

Di sisi lain, diperkenalkan juga karakter bernama Hee-soo, seorang barista yang bekerja di sebuah kedai kopi kecil yang sepi. Hee-soo memiliki selera humor yang unik dan aneh, sering melontarkan lelucon-lelucon absurd yang membuat orang lain bingung atau malah tertawa. Ia merasa kesepian dan tidak dipahami oleh orang-orang di sekitarnya. Hee-soo diam-diam menulis lelucon-lelucon tersebut di buku catatannya, berharap suatu saat bisa menemukan orang yang mengerti selera humornya.

Suatu hari, Ji-woo pergi ke kedai kopi tempat Hee-soo bekerja untuk mencari inspirasi. Ia memesan kopi dan mencoba menulis di mejanya, namun tetap buntu. Secara tidak sengaja, ia mendengar Hee-soo melontarkan lelucon yang sangat aneh dan tidak masuk akal kepada pelanggan lain. Pelanggan tersebut terlihat bingung, tetapi Ji-woo justru tertawa terbahak-bahak. Ia merasa menemukan sesuatu yang segar dan orisinal dalam humor Hee-soo.

Setelah pelanggan itu pergi, Ji-woo mendekati Hee-soo dan memperkenalkan diri sebagai seorang penulis naskah. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap lelucon-lelucon Hee-soo dan menawarkannya untuk bekerja sama dalam menulis naskah komedi. Hee-soo awalnya ragu, karena ia tidak pernah berpikir bahwa lelucon-leluconnya bisa dihargai. Namun, karena merasa tertarik dan ingin mencoba hal baru, ia akhirnya menerima tawaran Ji-woo.

ACT 2 (Conflict)

Ji-woo dan Hee-soo mulai bekerja sama. Ji-woo mencoba mengarahkan lelucon-lelucon absurd Hee-soo ke dalam struktur naratif yang lebih konvensional, sementara Hee-soo berusaha mempertahankan keaslian dan keanehan humornya. Proses penulisan ini sering kali memicu perdebatan dan ketegangan di antara mereka. Ji-woo merasa frustrasi karena Hee-soo terkadang terlalu ekstrem dalam humornya, sementara Hee-soo merasa bahwa Ji-woo berusaha mengubahnya menjadi orang lain.

Mereka juga menghadapi tantangan dari produser film Ji-woo, yang tidak menyukai lelucon-lelucon absurd yang mereka tulis. Produser tersebut menginginkan humor yang lebih mainstream dan mudah diterima oleh penonton. Ji-woo dan Hee-soo harus berjuang untuk mempertahankan visi mereka, sambil berusaha memenuhi tuntutan produser.

Selain itu, Ji-woo dan Hee-soo juga menghadapi masalah pribadi. Ji-woo masih dihantui oleh kegagalan naskah-naskah sebelumnya, dan ia merasa takut untuk gagal lagi. Hee-soo merasa kesulitan untuk membuka diri dan mempercayai orang lain, karena ia pernah mengalami pengalaman buruk di masa lalu.

Di tengah-tengah konflik ini, Ji-woo dan Hee-soo mulai mengembangkan perasaan satu sama lain. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, saling berbagi cerita, dan saling mendukung dalam menghadapi kesulitan. Namun, mereka berdua ragu untuk mengungkapkan perasaan mereka, karena takut akan merusak hubungan kerja mereka.

ACT 3 (Climax)

Ketegangan antara Ji-woo dan Hee-soo mencapai puncaknya ketika mereka harus mempresentasikan naskah mereka kepada produser film dan tim produksi. Produser tersebut sangat tidak menyukai naskah tersebut, dan ia mengancam akan membatalkan proyek film tersebut jika Ji-woo dan Hee-soo tidak mengubah naskah mereka secara signifikan.

Ji-woo merasa putus asa dan hampir menyerah. Ia mulai mempertimbangkan untuk mengikuti saran produser dan mengubah naskah mereka menjadi lebih mainstream. Namun, Hee-soo menolak untuk menyerah. Ia meyakinkan Ji-woo bahwa mereka harus tetap setia pada visi mereka, dan bahwa ada penonton yang akan menghargai humor mereka yang unik.

Hee-soo mengambil inisiatif dan mempresentasikan lelucon-lelucon absurd mereka dengan penuh percaya diri dan energi. Ia berhasil membuat tim produksi tertawa terbahak-bahak, dan bahkan membuat produser sedikit terhibur. Ji-woo terkejut melihat keberanian Hee-soo, dan ia merasa terinspirasi untuk ikut berjuang mempertahankan naskah mereka.

Pada akhirnya, produser film setuju untuk memberikan kesempatan kepada Ji-woo dan Hee-soo untuk membuat film mereka, meskipun dengan beberapa syarat dan batasan. Mereka berdua merasa lega dan bahagia, dan mereka berjanji untuk bekerja keras untuk membuat film yang sukses.

ACT 4 (Resolution)

Film berakhir dengan menunjukkan proses pembuatan film Ji-woo dan Hee-soo. Mereka menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, tetapi mereka tetap bekerja keras dan saling mendukung. Mereka belajar untuk menghargai perbedaan satu sama lain, dan mereka menemukan kekuatan dalam kolaborasi mereka.

Film tersebut akhirnya dirilis dan mendapatkan respon yang beragam dari penonton. Ada yang sangat menyukai humor absurd dan orisinal dalam film tersebut, tetapi ada juga yang tidak mengerti dan merasa aneh. Meskipun demikian, film tersebut berhasil mendapatkan perhatian dan pujian dari para kritikus film, dan Ji-woo dan Hee-soo berhasil membuktikan bahwa humor yang unik dan berbeda juga bisa sukses.

Selain itu, Ji-woo dan Hee-soo akhirnya berani mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Mereka menyadari bahwa mereka saling mencintai, dan mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius. Film berakhir dengan menunjukkan Ji-woo dan Hee-soo berjalan bersama di jalanan kota, sambil tertawa dan bercanda. Mereka berdua merasa bahagia dan optimis tentang masa depan mereka. Mereka telah menemukan cinta dan kesuksesan dalam humor absurd dan keanehan mereka.

Artikel ini membantu Anda memahami film lebih dalam.

📖 Lihat Selengkapnya